Rabu, 26 Oktober 2011

Kelas x Smt 2,Kompetensi Dasar : Membuat parafrasa dari teks tertulis Membuat parafrasa lisan dalam konteks bekerja

MEMBUAT  PARAFRASA
A. Memahami Parafrasa
             Pernahkah Anda mendengar istilah parafrasa?  Istilah parafrasa mungkin sering muncul dalam pembahasan puisi. Salah satu cara untuk memahami puisi  adalah  dengan  membuat  parafrasa  terhadap  puisi  tersebut,  yaitu dengan menambahkan kata-kata yang dapat memperjelas kalimat pendek yang menjadi ciri khas puisi. Setelah ada penambahan, puisi tersebut berubah menjadi  uraian  prosa  atau  cerita. Artinya, wajah  asli  puisi  tersebut  telah berubah menjadi prosa, namun  kandungan makna atau pengertian dari isi puisi tidak berubah.  Hal seperti itulah yang disebut parafrasa.
             Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, parafrasa adalah penguraian kembali  suatu  teks atau karangan dalam bentuk atau  susunan kata yang lain  dengan  maksud  dapat  menjelaskan  maknanya  yang  tersembunyi. Pengungkapan kembali  suatu  tuturan dan  sebuah  tingkatan atau macam bahasa tertentu menjadi macam yang lain tanpa mengubah pengertiannya.
              Membuat parafrasa bukan hanya pada puisi ke prosa  saja,  tapi  juga bentuk bahasa yang lain, seperti mengubah penggunaan kata kepada kata yang  sepadan  atau  bersinonim, mengubah  kalimat  aktif menjadi  bentuk pasif, kalimat langsung menjadi tidak langsung, mengubah bentuk uraian menjadi bentuk ungkapan atau peribahasa yang memiliki kesamaan arti. Pada  tataran  wacana  yaitu  mengubah  wacana  panjang  menjadi  bentuk rangkuman atau ringkasan. Dalam karya sastra, mengubah puisi ke prosa atau sebaliknya, mengubah bentuk dialog drama ke prosa atau sebaliknya. Jadi, pada hakikatnya parafrasa adalah mengubah atau mengalihkan suatu bentuk bahasa menjadi bentuk bahasa yang lain tanpa mengubah pengertian atau kandungan artinya.
             Parafrasa  juga  termasuk  menceritakan  kembali  sesuatu  yang  telah didengar  ke  bentuk  tulisan  atau  mengalihkan  bentuk  bahasa  lisan  ke bentuk bahasa tulisan. Misalnya, seseorang diperdengarkan sebuah cerita kemudian ia mencoba menguraikan kembali cerita tersebut dalam bentuk wacana atau karangan. Tentunya penggunaan kalimat dan pilihan katanya tidak sama dengan cerita aslinya karena dituangkan dengan menggunakan bahasa sendiri, namun inti cerita tidak berubah.
             Pada pembahasan kali ini, akan diuraikan cara membuat parafrasa dari sebuah wacana atau teks tertulis ke bentuk yang lebih ringkas. Hal-hal apa yang  harus diperhatikan dan  bagian-bagian mana  yang  harus diabaikan sehingga terjadi perubahan bentuk dengan tetap mempertahankan ide atau gagasan pokok sesuai teks aslinya.

B.  Cara Memparafrasa Wacana
             Wacana atau teks tertulis merupakan bentuk karangan yang terbagi atas beberapa paragraf.  Setiap paragraf  terdiri  atas unsur kalimat utama dan kalimat penjelas seperti yang telah diuraikan pada Bab 10. Kalimat-kalimat penjelas dapat berupa uraian yang penting dapat juga hanya perincian yang mengungkapkan contoh, ilustrasi, dan perumpamaan-perumpamaan. Kita harus tahu mana bagian yang berisi hal-hal pokok atau penting dan mana yang  bukan.
             Untuk memparafrasakan  sebuah  teks  tertulis,  langkah-langkah  yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut.
1.  Bacalah teks yang akan diparafrasa secara keseluruhan.
2.  Pahami topik atau tema dari teks tersebut untuk teks berbentuk narasi pahami pula alur atau jalan ceritanya.
3. Carilah kalimat utama pada setiap paragraf untuk menemukan gagasan atau ide pokok paragraf tersebut.
4.  Catatlah  gagasan pokok setiap paragrafnya.
5. Perhatikan  kalimat  penjelas,  pilahlah  kalimat  penjelas  yang  penting dan  buanglah  yang  hanya  berupa  ilustrasi,  contoh,  permisalan,  dan sebagainya  
6. Pilihlah kata atau kalimat yang efektif untuk menceritakan kembali. Jika perlu gunakan kata yang sepadan atau ungkapan yang lebih mewakili pengertian yang panjang, tetapi dapat dipahami.
7.  Ceritakan  atau  uraikan  kembali  dengan  bahasa  yang  lebih  mudah dipahami dan ringkas.
Di bawah ini adalah contoh sebuah wacana dan proses parafrasanya.
             Kewirausahaan merupakan  fondasi yang kokoh bagi pertumbuhan ekonomi  yang  tersebar  dan  berkelanjutan,  serta  memperkuat  proses demokratisasi  suatu  bangsa.  Pengembangan  kewirausahaan  bermakna strategis  bagi  kemakmuran  dan  daya  saing  suatu  bangsa. Hasil  studi ACG Advisory Group mengindikasikan pendidikan formal secara umum berpengaruh  terhadap  kemampuan  berwirausaha,  tapi  belum mampu menstimulan  peserta  didik  memiliki  kemauan  berwirausaha.  Hal  ini disebabkan  pendidikan  formal  di  Indonesia  saat  ini  hanya  berfokus pada upaya mengembangkan sisi pengetahuan peserta didik memahami bagaimana  suatu  bisnis  seharusnya dialankan dan  bukan  pada  upaya mengembangkan  sisi  sikap  untuk  berwirausaha  serta  pengalaman berwirausaha.
             Fenomena  ini disebabkan  sistem pendidikan di  Indonesia yang  lebih menekankan pada sisi hard skill daripada  sof skill  sehingga sisi kognitif peserta didik yang lebih diutamakan daripada sisi afektif dan psikomotoriknya (Lead Education 2005). Akibatnya, lulusan pendidikan formal secara umum memiliki pemahaman pengetahuan yang relatif baik mengenai kewirausahaan,  tapi tidak memiliki keterampilan dan mind-set berwirausaha.
             Pendidikan  ’pengetahuan’  kewirausahaan  telah  diajarkan  secara intrakurikuler baik  sebagai mata kuliah/mata pelajaran yang  tersendiri maupun sebagai bagian (topik bahasan) dari mata kuliah/mata pelajaran dari  tingkat  dasar  sampai  dengan  perguruan  tinggi.  Sayangnya, pembahasan  kewirausahaan  di  lembaga  pendidikan  formal  lebih didasarkan pada mengajarkan substansi buku teks, daripada memberikan pengalaman nyata bagi peserta didik untuk berwirausaha sehingga tidak mampu  mengubah  pola  pikir  dan  sikap  agar  peserta  didik  memiliki kemauan dankemampuan berwirausaha. Fenomena ini dibuktikan dari banyaknya  lulusan  perguruan  tinggi  yang menganggur  (11,7%  dari  6 juta orang lulusan perguruan tinggi), dan hanya kurang dari 5% lulusan perguruan tinggi yang akhirnya membuka usaha sendiri.
             Perubahan sistem pendidikan tinggi dan orientasi masyarakat untuk kuliah perlu diubah untuk mengurangi pengangguran lulusan perguruan tinggi padamasa mendatang. Kurikulum pendidikan tinggi yang berbasis pengetahuan perlu diubah ke arah kurikulum yang berbasis kompetensi dan  mendidik  kemandirian.  Pengembangan  jiwa  kewirausahaan  di kalangan  mahasiswa  diharapkan  dapat  menyelesaikan  pertambahan masalah pengangguran lulusan perguruan tinggi di Indonesia pada masa mendatang.
             Perubahan  kurikulum  ini memerlukan dukungan  bahan  ajar  yang atraktif  dan  praktis  sesuai  dengan  tingkat  kompetensi  peserta  didik, serta peningkatan kualitas guru dalam memahami kewirausahaan dan keterampilan  teknis  lainnya.  Guru  diharapkan  mampu  membekali keterampilan  praktis  kepada  siswa  didiknya  yang  bermanfaat  untuk membuka  usaha,  seperti  :  pendidikan  memasak,  menjahit,  membuat kerajinan  tangan, dan  sejenisnya. Perubahan pola pendidikan  ini  akan menghasilkan lulusan pendidikan formal yang memiliki pola pikir untuk berwirausaha  serta  mempunyai  keterampilan  dasar  yang  bermanfaat untuk berwirausaha kelak di kemudian hari.      
      
Hal-hal pokok  yang terdapat dalam wacana di atas adalah seperti berikut.

1.  Kewirausahaan  merupakan  fondasi  pertumbuhan  ekonomi  dan memperkuat proses demokratisasi suatu bangsa.
2.  Pendidikan  formal  di  Indonesia  hanya  berfokus  pada  upaya mengembangkan pengetahuan bagaimana suatu bisnis harus dialankan bukan mengembangkan sikap untuk berwirausaha.
3.  Pendidikan di  Indonesia  lebih menekankan  sisi hard  skill bukan  sof skill /sisi kognitif bukan afektif dan psikomotorik.
4.  Pola pendidikan ini tidak mengubah pola pikir dan sikap peserta didik agar memiliki kemauan dan kemampuan untuk berwirausaha.
5.  Lulusan  perguruan  tinggi menganggur  11,7%  dari  6  juta  orang  dan hanya di bawah 5% lulusan yang membuka usaha sendiri.
6.  Perubahan  sistem pendidikan  tinggi dan  orientasi masyarakat harus kuliah perlu dilakukan.
7.  Perubahan kurikulum memerlukan dukungan bahan ajar yang atraktif dan praktis sesuai dengan tingkat kompetensi peserta didik serta guru dalam memahami kewirausahaan.
8.  Perubahan pola pendidikan ini akan menghasilkan lulusan pendidikan formal  yang memiliki  pola  pikir  untuk  berwirausaha  serta memiliki keterampilan  dasar  yang  bermanfaat  untuk  berwirausaha  kelak  di kemudian hari.

Parafrasa wacana seperti berikut.
             Kewirausahaan  merupakan  fondasi  dan  penguat  pertumbuhan ekonomi  dan  demokratisasi  suatu  bangsa.  Pendidikan  formal  secara umum  berpengaruh  dalam  mengembangkan  kewirausahaan,  namun belum  dapat  menstimulan  peserta  didik  untuk  mau  berwirausaha. Sistem  pendidikan  di  Indonesia  baru  mengembangkan  sisi  kognitif  yaitu memahami  proses  bisnis  bukan menumbuhkan  sikap  berbisnis. Pendidikan di Indonesia  lebih menekankan hard skill daripada sof skill. Hal ini menyebabkan lulusan perguruan tinggi menganggur 11,7 % dari 6 juta orang dan hanya kurang dari 5% yang membuka usaha sendiri. Perubahan  pendidikan  formal  termasuk  orientasi masyarakat  yang mengharuskan kuliah perlu dilakukan. Namun, hal  itu perlu didukung oleh  bahan  ajar  yang  atraktif  dan  praktis  serta  guru  yang memahami kewirausahaan.  Dengan  adanya  perubahan  ini,  diharapkan  lulusan pendidikan formal memilki pola pikir untuk berwirausaha dan mempunyai keterampilan dasar untuk modal  berwirausaha kelak di kemudian hari.



MEMBUAT  PARAFRASA LISAN DALAM
KONTEKS BEKERJA
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                         (Sumber : Majalah                                                                                                                                                                                    Ikan+Mancing, Januari 2003)
A.  Pengertian Parafrasa.
          Parafrasa mengandung arti pengungkapan kembali suatu tuturan atau karangan menjadi  bentuk  lain  namun  tidak mengubah  pengertian  awal. Parafrasa  tampil dalam bentuk  lain dari bentuk aslinya, misalnya sebuah wacana  asli menjadi wacana  yang  lebih  ringkas,  bentuk  puisi  ke  prosa, drama  ke  prosa,  dan  sebaliknya.  Parafrasa  cenderung  diuraikan  dengan menggunakan  bahasa  si  pembuat  parafrasa  bukan  diambil  dari  kalimat sumber aslinya apalagi membuat parafrasa secara lisan.
          Memparafrasakan  suatu  tuturan  atau  karangan  secara  lisan  bisa dilakukan  setelah mendengar  tuturan  lisan  atau  setelah membaca  suatu naskah  tulisan. Hal  itu  lazim  dilakukan  oleh  orang  yang  sudah  terbiasa membuat parafrasa. Untuk mereka yang baru dalam taraf belajar, langkah membuat  parafrasa  ialah  dengan  cara  meringkasnya  terlebih  dahulu. Namun,  harus  diingat  parafrasa  disusun  dengan  bahasa  sendiri,  bukan dengan bahasa asli penulis.
B.  Cara Membuat Parafrasa
           Berikut  adalah  hal  yang  perlu  dilakukan  untuk membuat  parafrasa dari sebuah bacaan.
(1)  Bacalah  naskah  yang  akan  diparafrasakan  sampai  selesai  untuk memperoleh gambaran umum isi bacaan/tulisan.
(2)  Bacalah naskah sekali lagi dengan memberi tanda pada bagian-bagian penting dan kata-kata kunci yang terdapat pada bacaan.
(3)  Catatlah kalimat inti dan kata-kata kunci secara berurut.
(4)  Kembangkan kalimat inti dan kata-kata kunci menjadi gagasan pokok yang sesuai dengan topik bacaan.
(5) Uraikan kembali gagasan pokok menjadi paragraf yang singkat dengan bahasa sendiri.
            Membuat parafrasa lisan berarti uraian tertulis yang telah dibaca atau yang  telah  didengar,  diungkapkan  kembali  secara  lisan  dengan  kalimat sendiri  dengan  menerapkan  teknik  membuat  parafrasa  sama  seperti  di atas.
            Teknik membuat parafrasa lisan adalah seperti berikut.
(1)  Membaca informasi secara cermat.
(2)  Memahami isi informasi secara umum.
(3)  Menulis inti atau pokok informasi dengan kalimat sendiri.
(4)  Mencatat kalimat pokok atau inti secara urut.
      (5) Mengembangkan  kalimat  inti  atau  kata-kata  kunci  menjadi  pokok-pokok   pikiran yang sesuai dengan tema/topik informasi sumber.
      (6) Menyampaikan atau menguraikan secara lisan pokok pikiran tersebut dengan menggunakan kata atau kalimat sendiri.
(7)  Jika kesulitan menguraikannya, hal di bawah ini dapat membantu:
 (a) Gunakan kata-kata yang bersinonim dengan kata aslinya.
       (b) Gunakan ungkapan yang sepadan  jika  terdapat ungkapan untuk membedakan    dengan uraian aslinya.
       (c) Ubahlah  kalimat  langsung menjadi  tidak  langsung  atau  kalimat aktif menjadi pasif.
 (d)  Jika berbentuk narasi, bisa menggunakan kata ganti orang ketiga.







C. Memparafrasakan Puisi Menjadi Prosa
            Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam memparafrasakan puisi menjadi prosa ialah seperti berikut.
(1)  Bacalah atau dengarkan pembacaan puisi dengan seksama.
(2)  Pahami isi kandungan puisi secara utuh.
(3)  Jelaskan kata-kata kias atau ungkapan yang terdapat dalam puisi.
(4) Uraikan kembali  isi puisi  secara  tertulis dalam bentuk prosa dengan menggunakan kalimat sendiri.
(5)  Sampaikan secara lisan atau dibacakan.

D.  Pola Penyajian Informasi Lisan
             Beberapa pola penyajian  atau penyampaian  informasi  secara  lisan adalah seperti berikut.
1.  Pola Contoh
Parafrasa  dengan  pola  contoh  dikembangkan  memerinci  atau memberikan ilustrasi untuk menjelaskan ide pokoknya.
Contoh:
Pohon  pisang  merupakan  pohon  yang  banyak  fungsinya.  Selain buahnya, daun dan batangnya dapat dimanfaatkan. Daun pisang dapat digunakan untuk membungkus, sedangkan batangnya dimanfaatkan untuk membuat perhiasan dalam pernikahan.
2.  Pola Proses
Parafrasa diuraikan dalam bentuk proses, dengan memerinci cara kerja, langkah-langkah atau tahapan pelaksanaan. Parafrasa dengan pola ini berbentuk uraian ekspositoris.
Contoh:
 Berikut ini adalah proses pembuatan lumpia.Pertama,  tumis  bawang  bombai  dan  bawang  putih  sampai  harum. Kedua,  masukkan  daun  bawang  dan  ayam  cincang,  masak  selama kurang  lebih  tiga  menit.  Ketiga,  masukkan  jagung  manis,  jamur kancing, bayam,  lada, gula pasir, dan bumbu penyedap secukupnya. Keempat, aduk sampai rata jagung dan bumbu-bumbu tersebut sampai layu. Terakhir, masukkan larutan maizena sedikit demi sedikit sambil diaduk-aduk kurang lebih lima menit dan sisihkan.
3.  Pola Sebab Akibat
Parafrasa  dengan  pola  ini  diawali  dengan  mengemukakan  atau menggambarkan hal-hal yang menunjukkan sebab dan akhiri dengan suatu akibat.
Contoh:
Mencuci  dengan  sabun  deterjen  dapat  memudarkan  warna  tekstil atau  bahan  pakaian.  Memudarnya  warna  pakaian  terlihat  seperti lusuh dan usang. Pakaian lusuh tidak layak untuk dipakai. Akibatnya, banyak orang tidak menggunakan lagi sabun deterjen untuk mencuci pakaian.
4.  Pola Urutan/Kronologis
Parafrasa pola ini pemaparannya diuraikan berdasarkan urutan waktu dan  rangkaian  kejadiannya.  Parafrasa  pada  pola  urutan/kronologis bersifat narasi. Contoh:
Saya  mendengar  suara  kentongan,  sepertinya  itu  pedagang  bakmi lewat. Saya pergi keluar dan membuka pintu pagar, lalu memanggilnya. Ia berhenti. Pedagang itu seorang laki-laki. Dia bertanya, “Mau pesan berapa porsi?”  Saya  jawab  “Satu porsi  saja.” Kemudian,  laki-laki  itu menyiapkan bakmi sesuai pesanan saya. Setelah bakmi selesai dibuat, saya  memberikan  uang  lima  ribu  rupiah  untuk  membayar  bakmi kepada pedagang keliling  itu, kemudian  saya masuk ke  rumah, dan pedagang berlalu dari depan rumah saya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar