Rabu, 26 Oktober 2011

Kelas x Smt 1, Kompetensi Dasar : Memilih kata, bentuk kata, dan ungkapan yang tepat

A.  Pilihan Kata dan Bentukan Kata dalam Konteks atau Topik  Pembicaraan
            Sering terjadi seseorang sulit menguraikan suatu peristiwa dalam pembicaraan atau tak dapat menyampaikan gagasan melalui kata-kata serta kalimat yang tepat sehingga terjadi penjelasan yang berbelit-belit, panjang lebar, dan kurang terarah. Hal ini menyebabkan pendengar sulit memahami maksud yang disampaikan oleh pembicara dan dapat terjadi salah pengertian.
            Untuk menyampaikan maksud pembicaraan, seseorang akan berupaya menggunakan berbagai kata atau ungkapan yang dapat mewakili makna atau  konsep  yang ingin diutarakan.  Setidaknya ia memahami dan menguasai berbagai istilah kata yang berkaitan dengan topik yang akan disampaikan. Namun, seseorang belum tentu dapat dengan baik mengutarakan atau menjelaskan apa yang sudah dipahami tersebut lewat kata-kata atau kalimat yang tepat dan efektif. Ketidakefektifan seseorang dalam menyampaikan sesuatu dapat disebabkan kurang menguasai kosakata, bentukan kata, atau ungkapan kata yang sesuai dengan topik, gagasan atau maksud yang ingin diungkapkan. Keluhan seperti saya agak susah mengatakannya  atau ngomongnya gimana, ya? akan ternyata kan bila seseorang tidak menguasai kosa kata bidang atau persoalan yang ingin diungkapkan. Kondisi ini dapat terjadi baik dalam penggunaan bahasa tulis maupun bahasa lisan(berbicara), misalnya seseorang tak dapat menjelaskan dengan baik persoalan tentang transportasi udara jika ia tak menguasai istilah, kata-kata atau ungkapan yang berhubungan dengan masalah itu.
            Saat membicarakan telepon seluler atau nirkabel, istilah pulsa, voucher, berbagai  merek HP, isi ulang, kartu perdana dan sebagainya kerap diucapkan. Ketika berbicara tentang rumah sakit, istilah paviliun, kamar, rontgen, infus, fasilitas perawatan, nama penyakit, nama obat, dan sebagainya akan sering terdengar. Atau, orang tidak dapat terlibat pembicaraan orang lain tentang sesuatu yang ia tidak paham betul topik yang sedang dibahas serta tak menguasai kata-kata atau istilah yang berhubungan dengan hal yang dibicarakan.
            Di bawah ini, contoh lain beberapa kata atau istilah serta ungkapan yang saling berkaitan dalam satu topik atau pokok pembicaraan.
1.  Kereta api  :  lokomotif, stasiun, kereta ekspres, kelas ekonomi, gerbong, abudemen,  rel, langsam, dan sebagainya.
2.  Sepak bola    :   kesebelasan, liga, galatama, copa Amerika, FIFA, striker, pinalti, kiper, hatrik, dan sebagainya.
3.  Film           :  jam tayang, durasi, aktor, aktris, judul, sinetron, layar lebar, piala citra, top     rating, dan sebagainya
4.  Musik             : group band, konser, musisi, lagu, fans, vokalis, lagu favorit, request, platinum, dan sebagainya.
5.  Internet            :  chating, e-mail, website, browser, situs, home page, neter, dan sebagainya. 
            Pemilihan bentukan kata juga menentukan proses penyampaian maksud. Banyak kata atau bentukan kata yang secara umum memiliki kesamaan arti, tapi sesungguhnya mengandung pengertian khusus yang berbeda. Pilihan dan penggunaan bentukan kata yang tepat menjadikan kalimat lebih cermat dan terarah sehingga terhindar dari salah pengertian, misalnya kata membawa  memiliki kata–kata sepadan yang secara khusus maknanya berbeda, yaitu memanggul, menggendong, dan menjinjing. Masing–masing kata ini mempunyai makna dan ciri khusus yang membedakan satu sama lain. Meskipun sama–sama        membawa,pengertian.  Memanggul ialah membawa dengan meletakkan barang bawaan di bahu, menggendong ialah membawa dengan kedua tangan sejajar dengan dada, menjinjing ialah membawa dengan tangan menggenggam barang bawaan seperti tas.
Contoh dalam kalimat :
-   Ia terpaksa memanggul karung beras itu sampai ke rumah.
-   Guru BP menggendong siswa yang pingsan itu ke ruang UKS.
-   Ibu itu menjinjing belanjaannya yang berisi sayuran. 
            Seseorang dapat memanfaatkan kata bersinonim tersebut untuk lebih menekankan makna kata kepada pengertian yang lebih khusus agar topik pembicaraan lebih terarah.
B. Memanfaatkan KataBersinonimuntuk Menghindari Kata yang Sama dalam Kalimat/Paragraf
            Penguasaan kosakata yang tidak banyak, dapat menyulitkan seseorang untuk merangkai kalimat untuk menjelaskan sesuatu baik dalam bentuk tulisan maupun lisan. Kalimat yang dibuat dapat berisi banyak kata yang sama dan diulang-ulang.  Kalimat menjadi tidak cermat atau kurang efektif atau berkesan mubazir.
            Mengurangi penggunaan kata yang berlebihan dan berulang-ulang dalam kalimat dapat diatasi dengan   pemakaian kata yang bersinonim. Dengan penggunaan kata yang sepadan, kalimat menjadi tidak kaku serta lebih variatif.
Contoh:
1a.   Jumlah wisatawan kembali meningkat di Bali pasca tertangkapnya para tersangka peledak, bom Bali yang menghebohkan dunia itu. Para wisatawan merasa tak akan ada lagi aksi terorisme di Pulau Bali tersebut. Sebelumnya kunjungan wisatawan di Bali merosot drastis.
1b.    Jumlah wisatawan kembali meningkat di Bali pasca tertangkapnya para tersangka peledak, bom Bali yang menghebohkan dunia itu. Para turis asing merasa tak akan ada lagi aksi terorisme di Pulau Dewata tersebut. Sebelumnya kunjungan wisman di Bali merosot drastis.
2a.   Polisi tidak mentoleransi adanya aksi unjuk rasa saat pemilihan umum daerah berlangsung, yang pasti akan mengganggu jalan pemilihan umum daerah tersebut. Setiap aksi unjuk rasa akan ditindak tegas  oleh polisi, siapa pun dan dari mana pun unjuk rasa itu berasal.
2b.   Aparatkeamanan tidakmentolerasiadanya demonstrasi saatpemilihan umum daerah berlangsung yang pasti akan mengganggu jalannya pesta demokrasi tersebut. Setiap aksi demontrasi akan ditindak tegas oleh polisi, siapapun dan dari manapun aksi massa itu berasal.
C.  Makna Leksikal, Kontekstual, Struktural, dan Makna Metaforis
            Pilihan kata juga berkaitan dengan pertimbangan menggunakan kata yang memiliki makna-makna tertentu. Sebuah kata tidak serta-merta hanya memiliki satu makna atau pengertian. Tapi, sebuah kata dapat dimaknai secara leksikal, kontekstual, ataupun struktural. Yang dimaksud dengan makna leksikal ialah makna yang sesuai dengan konsep yang digambarkan pada kata tersebut. Makna leksikal disebut juga makna yang sesuai dengan referensial kata tersebut. Contoh kata      kerbau  adalah binatang mamalia bertanduk yang makanannya rumput atau sejenis sapi, sedangkan makna kontekstual ialah makna yang muncul sesuai dengan konteks kata tersebut dipergunakan. Artinya, makna tersebut muncul sebagai makna tambahan di samping makna sebenarnya berupa kesan-kesan yang ditimbulkan oleh sebab situasi tertentu,misalnya ungkapan dasar kerbau,kerjaannya makan tidur saja tentu yang dimaksud kerbau bukan binatang bertanduk tapi menunjuk pada manusia. Contoh lain ialah kata kursi, secara leksikal maknanya adalah tempat untuk duduk. Kursi pada kalimat banyak kursi yang nilainya puluhan juta saat pemilu, bermakna jabatan yang diperjualbelikan.
            Selain makna leksikal dan kontekstual, ada makna struktural atau gramatikal.     Makna struktural  adalah makna yang muncul akibat kata mengalami proses afiksasi atau penambahan imbuhan serta proses reduplikasi dan proses komposisi. Kata terdengar, misalnya pada kalimat suaranya terdengar sampai ke belakang  berarti dapat  didengar tapi kata terdengar yang memiliki kata dasar sama yaitu dengar, pada kalimat rencana jahatnya terdengar oleh tetangganya berarti  tidak sengaja. Demikian pula pada kata buku dengan buku-buku yang mengalami reduplikasi menimbulkan makna jamak yang artinya banyak buku makna yang berbeda juga dapat ditimbulkan oleh akibat komposisi kata. Misalnya, kata sate ayam tidak sama maknanya dengan sate madura yang pertama menunjukkan bahan dan yang kedua menunjukkan tempat.
            Makna metaforis adalah makna yang ditimbulkan oleh adanya unsur perbandingan di antara dua hal yang memiliki ciri makna yang sama. Contoh kata kaki dengan ungkapan kaki langit, kaki gunung, dan kaki meja. Kaki tetap menunjukkan bagian bawah, namun ungkapan kaki langit bermakna horizon, kaki gunung berarti lembah, dan kaki meja adalah tiang-tiang penyanggah meja. Benda yang ditunjukkan berbeda tetapi memiliki kemiripan keberadaan, yaitu di bagian bawah. Demikian pula dengan kata kepala yang membentuk perbandingan kepala kereta, kepala pemerintahan, dan kepala sekolah. Kata jatuh yang membentuk kata-kata jatuh cinta, jatuh miskin, jatuh bangun, jatuh hati, dan sebagainya. Gaya bahasa ini kemudian disebut dengan polisemi.
             Makna metaforis juga dapat berbentuk ungkapan jika dilihat dari segi ekspresi kebahasaannya, yaitu dalam usaha penutur untuk menyampaikan pikiran, perasaan, dan emosinya dalam bentuk-bentuk satuan bahasa tertentu yang dianggap tepat, seperti ungkapan panggung dunia, bunga emosinya  dalam  bentuk-bentuk satuan  bahasa  tertentu  yang dianggap tepat, seperti desa, bintang kelas, jendela informasi, dan bahtera rumah tangga. tangga.
Beberapa kata di dalam bahasa Indonesia dapat dimaknai secara leksikal, kontekstual, struktural, atau metaforis bergantung pada kebutuhan struktural,  atau  metaforis tergantung pada kebutuhan penggunaannya. Hanya  saja  kita  harus  penggunaannya. Hanya saja kita harus dapat membedakan makna-makna dapat  membedakan  makna-makna  kata  tersebut  sehingga  dapat  menggunakannya  secara  tepat.  kata tersebut sehingga dapat menggunakannya secara tepat. Perhatikan tabel berikut:
No
Kata
    Makna Kata
leksikal  
Kontekstual
     struktural
metaforis
1
kursi
 bangku,
 berebut kursi:  
berkursi:
kursi malas
tempat duduk
 jabatan
menggunakan kursi
2
nomor
angka, bilangan
punya nomor: 
menomori :
nomor jitu
pegawai negeri
memberikan nomor
3
angin
udara, hawa
bagai angin: 
angin-anginan:
angin duduk
tak tentu arah
tidak tetap
4
gelap
suram, kelam
Kulit gelap:
menggelapkan :
pasar gelap,
kulit hitam
membuat jadi tidak gelap
 gelap mata
5
jatuh
tersungkur
jatuh: gugur,gagal
berjatuhan: jatuh satu-satu
jatuh bangun




D.   Majas dan Pribahasa
1.  Majas
Gejala memperbandingkan pun terjadi pada bentuk-bentuk majas seperti majas perbandingan. Yang termasuk majas perbandingan ialah: majas perumpamaan, majas metafora, majas personifikasi, majas alegori, dan majas antitesis.
1)   Majas perumpamaan, ialah majas perbandingan dua hal yang pada hakekatnya berlainan dan sengaja dianggap sama. Perbandingan ini ditandai oleh pemakaian kata seperti: bagaikan, ibarat, umpama, laksana, dan seperti.
Contoh:
a.  Larinya cepat laksana kilat.
b.  Mukanya pucat bagaikan mayat.
c.  Suaranya menggelagar seperti halilintar.

2)  Majas metafora, ialah majas perbandingan yang paling singkat, padat, tersusun rapi. Di dalamnya, terlibat dua ide: yang satu adalah suatu kenyataan dan satunya lagi merupakan perbandingan terhadap kenyataan tadi.
Contoh;
a.  Nani jinak-jinak merpati.
b.  Dia anak emas pamanku.
c.  Bapak tulang punggung keluarga kita.

3)  Majas personifikasi, adalah jenis majas yang melekatkan sifat-sifat insani kepada barang yang tidak bernyawa atau benda abstrak.
Contoh:
a.  Angin meraung-raung.
b.  Nyiur melambai-lambai.
c.  Ombak menerjang karang.
4)   Majas alegori, ialah  cerita yang diceritakan dengan lambang-lambang. Alegori biasanya berisi tentang moral dan hal-hal yang berkaitan dengan spiritual manusia. Alegori dapat berbentuk puisi maupun prosa. Bentuk alegori singkat misalnya, fabel dan farabel. Fabel adalah sejenis alegori yang di dalamnya terdapat tokoh-tokoh binatang yang dapat berbicara dan bertingkah laku seperti manusia.

Contoh:
a.  Kancil dan buaya
b.  Kancil dan kura-kura
c.  Tom dan Jerry
            Farabel adalah cerita singkat yang mengemukakan masalah moral, misalnya cerita para nabi atau cerita orang-orang saleh. Sekarang banyak muncul pula cerita yang penuh hikmah dari buah kebaikan atau akibat perbuatan buruk seperti dalam kisah Rahasia Ilahi, dan Pintu Hidayah.
5)   Majas antitesis, ialah sejenis majas yang mengadakan komparasi  atau perbandingan antara dua antonim (majas ini bersifat perlawanan).
Contoh:
a.  Dia bergembira ria atas kegagalan dalam ujian itu.
b.  Setelah ditodong, ia malah menolong penjahat itu.
c. Orang tua itu bergembira atas pernikahan putrinya, sekaligus merasa was-was dengan masa depannya.
2.  Peribahasa
            Gaya bahasa perbandingan juga dapat berbentuk peribahasa.Peribahasa adalah kalimat atau kelompok perkataan yang tetap susunannya dan biasanya mengiaskan sesuatu maksud tertentu. Zaman dahulu peribahasa merupakan sarana untuk mengungkapkan penilaian, nasihat, gurauan, atau sindiran. Di dalam peribahasa, terdapat simbol atau lambang-lambang yang dianggap mewakili maksud yang ingin diungkapkan.
Contoh peribahasa:
1.  Datang tampak muka, pergi tampak punggung.
Artinya:  Datang dengan baik, pergi pun harus dengan baik pula.
2.  Sepala-pala mandi biar basah.
Artinya: Mengerjakan sesuatu perbuatan hendaklah sempurna, jangan separuh-paruhnya.
3.  Arang habis, besi tak kimpal.
Artinya: Kerugian sudah banyak, maksud tak sampai.
4.  Besar pasak daripada tiang.
Artinya: Besar pengeluaran daripada penghasilan.
5.  Bagai mencencang air.
Artinya: Mengerjakan pekerjaan yang sia-sia.
6.  Bagai telur di ujung tanduk.
Artinya: Keadaan yang sudang gawat atau genting.
7.  Bagai anak ayam kehilangan induk.
Artinya: Seseorang yang tidak punya pegangan, hidupnya tak tentu arah.
E.  Pilihan Kata dalam Laras Bahasa
            Pada pelajaran terdahulu, sudah dijelaskan tentang laras bahasa. Laras bahasa adalah ciri khas suatu penggunaan bahasa pada kelompok atau lingkungan pemakai bahasa tertentu. Kekhususan tersebut meliputi pilihan kata, ungkapan, istilah, ragam bahasa, dan gaya penuturan. Misalnya, laras bahasa hukum akan banyak menggunakan istilah atau kosakata yang berkaitan dengan hukum, aturan, dan perundang-undangan. Karena bersifat penjelasan mengenai peraturan, biasanya kalimat dalam bahasa hukum panjang-panjang atau berbentuk kalimat luas.
            Lain lagi dengan bahasa sastra, lebih banyak menggunakan kata bermakna konotasi atau simbolik. Kalimatnya pun panjang namun banyak perumpamaan atau bersifat metaforis. Bahasa pers lebih cenderung menghemat kata atau sering menghilangkan bentuk imbuhan dalam bentukan kata. Kalimatnya pun bersifat lugas dan apa adanya.
Contoh bahasa hukum:
            “Jika tindak pidana psikotropika sebagaimana dimaksud dalam Pasal 60, Pasal 61, Pasal 62, Pasal 63, dan Pasal 64, dilakukan oleh korporasi, maka di samping pidananya pelaku tindak pidana, kepada korporasi dikenakan pidana denda sebesar 2 (dua) kali pidana denda yang berlaku untuk tindak pidana tersebut dan dapat dijatuhkan pidana penambahan berupa pencabutan izin usaha.”
Contoh bahasa pers:
a.  “ PT. Natural belum beri Keputusan.”
b.  “ Pasokan  Melimpah, Permintaan Beras Turun.”
c.  “ Petani Tak Mampu Penuhi Persyaratan Bank.”

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar