Rabu, 26 Oktober 2011

Kelas x Smt 1,Kompetensi Dasar : Membaca untuk memahami makna kata, bentuk kata, ungkapan, dan kalimat dalam konteks bekerja

A. Klasifikasi Kata Berdasarkan Kelas Kata
            Untuk mendayagunakan bahasa secara maksimal, diperlukan kesadaran akan pentingnya pengayaan kosakat. Kesadaran itulah yang memotivasi kita untuk lebih rajin membaca. Membaca merupakan kegiatan berbahasa yang secara aktif menyerap informasi atau pesan yang disampaikan melalui media tulis, seperti buku, majalah, dan surat kabar. Aktivitas membaca tidak saja dilakukan untuk menyerap informasi atau pesan yang diuraikan di dalam bacaan, tetapi membaca dapat juga dilakukan dengan tujuan menelaah unsur-unsur kebahasaan yang terkandung di dalamnya.
            Dalam sebuah bacaan, terkandung banyak unsur bahasa yang berkaitan dengan makna kata dan ruang lingkupnya. Juga penggunaan gaya bahasa yang berhubungan dengan ungkapan dan bentuk-bentuk pemakaiannya. Pada bab ini, kita akan membahas dan menelaah unsur-unsur kebahasaan di dalam bacaan berkaitan dengan kata, bentuk kata, ungkapan, serta kalimat berdasarkan kelas kata dan makna kata.
            Kata merupakan unsur yang sangat penting dalam membangun suatu kalimat. Tanpa kata, tidak mungkin ada kalimat. Setiap kata mempunyai fungsi dan peranan yang berbeda sesuai dengan kelas kata atau jenis katanya. Di kelas X, kita sudah mempelajari kelas kata dan pada bab ini akan dibahas kembali tentang kelas kata dan hubungannya dengan kalimat.
            Secara umum kelas kata terdiri atas 5 macam, yaitu:
(1) katakerja(verba)
(2) katasifat(adjektif)
(3) kataketerangan(adverbia)
(4) katabenda(nomina),kataganti(pronomina),katabilangan(numeralia)
(5) katatugas
1.  Kata Kerja (Verba)
            Kata kerja ialah kata yang menyatakan perbuatan atau tindakan. Kata kerja biasanya berfungsi sebagai predikat. Suatu kata dapat digolongkan ke dalam kelas kata kerja apabila memenuhi persyaratan berikut.
(1) Dapat diikuti oleh gabungan kata (frasa) dengan + kata sifat.
Contoh:
pergi        (Pergi dengangembira.)
tidur         (Tidur dengannyenyak.)
jalan        (Jalan dengansantai.)
(2) Dapat diberi aspek waktu, seperti akan, sedang, dan telah.
Contoh:
(akan)mandi
(sedang)tidur
(telah) pergi
(3) Dapat diingkari dengan kata tidak.
Contoh:
(tidak)makan
(tidak)lihat
(tidak)pulang
(4) Berawalan me- dan ber-
Contoh:
melatih
melihat
merakit
berdiskusi
berpikir
berusaha
2. Kata Sifat (Adjektiva)
            Kata sifat ialah kata yang dipakai untuk mengungkapkan sifat atau keadaan sesuatu, misalnya keadaan orang, binatang, benda. Kata sifat berfungsi sebagai predikat.
            Suatu kata dapat digolongkan ke dalam kelas kata sifat apabila memenuhi persyaratan berikut.
(1) Dapat diawali dengan kata sangat, paling dan diakhiri dengan kata
sekali.

Contoh:
indah              (sangatindah/indah sekali)
baik                (sangatbaik/baik sekali)
tinggi              (sangattinggi/tinggi sekali)
(2) Dapat diberi awalan se- dan ter-.
Contoh:
Luas            (seluas/terluas)
Bodoh          (sebodoh/terbodoh)
Mudah         (semudah/termudah)
Buruk           (seburuk/terburuk)
Baik            (sebaik/terbaik)
 (3) Dapat diingkari dengan kata tidak.
Contoh:
Murah           (tidakmurah)
Sulit                          (tidaksulit)
Pahit            (tidakpahit)

3. Kata Keterangan (Adverbia)
            Kata keterangan atau adverbia adalah kata yang memberi keterangan pada verba, adjektiva, nomina predikatif, atau kalimat.
            Berikut adalah macam-macam adverbia.
(1)   Adverbiadasarbebas,misalnya:alangkah, agak, akan, amat, nian, niscaya, tidak, paling, pernah, pula, saja, saling.
 (2)   Adverbiaturunanterbagiatas3bentukberikut.
 (a) Adverbia reduplikasi, misalnya ; agak-agak, lagi-lagi, lebih-lebih, paling-paling.
(b) Adverbiagabungan,misalnya:belum boleh, belum pernah, atau tidak mungkin.
(c) Adverbia  yang berasal dari berbagai kelas, misalnya: terlampau, agaknya, harusnya, sebaiknya, sebenarnya, secepat-cepatnya.

4. Kata Benda (Nomina),Kata Ganti (Pronomina),Kata Bilangan (Numeralia)
4.1. Kata benda
            Kata benda ialah kata yang mengacu pada benda, orang, konsep, ataupun pengertian yang berfungsi sebagai objek dan subjek. Suatu kata dapat digolongkan ke dalam kelas kata benda apabila memenuhi persyaratan berikut.

(1) Dapat diikuti oleh frasa yang + sangat.
Contoh:   mobil                        (mobil yang bagus/mobil yangsangatbagus)
              Pemandangan           (pemandangan yang indah/pemandangan  yang sangat indah)
            Pemuda                       (pemuda yang gagah/pemuda yang sangat gagah)
(2) Berimbuhanpe-, -an, pe-/-an, per-/-an, ke-/-an.
Contoh:
permainan
pertunjukan
kesehatan
(3) Dapatdiingkaridengankatabukan.
Contoh :
 Saya    (bukansaya)
             Roti     (bukanroti)
Gubuk             (bukangubuk)

4.2. KataGanti(Pronomina)
            Kata ganti atau pronomina adalah kata yang dipakai untuk mengacu pada nomina lain.Pronomina berfungsi untuk mengganti kata benda atau nomina.
Contoh:
Aku sudah mencoba membujuknya.
Kami sangat berharap kepada kalian.
Dia telah meninggalkan kita.
Itu memang miliknya.
4.3. KataBilangan(Numeralia)
            Kata bilangan atau numeralia adalah kata yang dipakai untuk menghitung banyaknya orang, binatang, dan benda.
Contoh:
Ibu membeli gelas selusin.
Ia mendapat peringkat pertama di kelasnya.
Bapak Bardi memiliki dua puluh ekor kambing.
Sepertiga dari harta warisan itu disumbangkan ke panti asuhan.
5.  Kata Tugas
            Kata tugas dapat dirinci menjadi empat jenis kata, yaitu (1)kata depan, (2)kata sambung, (3)kata sandang, (4)kata seru, dan (5) partikel.
 (1)    KataDepan(Preposisi)
            Kata depan adalah kata yang menghubungkan dua kata atau dua kalimat.
Contoh:
di (sebelah)utara=menunjukarah
ke timur=menunjukarah
dari pasar=menunjuktempat
padaharisenin=menunjukwaktu
(2)   KataSambung(Konjungsi)
Kata sambung adalah kata yang menghubungkan dua satuan bahasa yang sederajat: kata dengan kata; frasa dengan frasa, klausa dengan klausa.
Contoh :
adik dan kakak
makan atau minum
tidak makan, tetapi minum
ia tidak naik kelas karena bodoh
Adi meletakkan tasnya, lalu ia membuka seragamnya.
(3)  KataSandang(Artikula)
       Kata sandang adalah kata tugas yang membatasi makna nomina.
       Contoh:
sang guru                        (sang bermaknatunggal)
para pemimpin               (para bermaknajamak)
si cantik                          (si bermaknanetral)
(4)   KataSeru(Interjeksi)
       Kata seru adalah tugas yang digunakan untuk mengungkapkan seruan hati.
Contoh:
Aduh, kakiku sakit sekali.
Astaga, mengapa kamu berani mencuri ?
Ayo, jangan putus asa.
Wah, mahal sekali!” kata adik.
       Kata yang dicetak miring adalah kata seru. Contoh lain kata seru adalah hai, nah, oh, celaka, gila, Masya Allah, dan Alhamdulillah.

(5)  Partikel
            Partikel adalah kategori atau unsur yang bertugas memulai, mempertahankan, atau mengukuhkan sebuah kalimat dalam komunikasi. Unsur ini digunakan dalam kalimat tanya, perintah, dan pernyataan (berita).
Contoh partikel: -lah, -kah, -tah, -deh, -dong, -kek, dan -pun
Kita baru saja mempelajari kelas kata beserta ciri-cirinya. Dalam suatu wacana,tentu terdapat berbagai kata, frasa, dan kalimat. Kita dapat merinci setiap kata berdasarkan kelas katanya.
B. Klasifikasi Kata Berdasarkan Bentuk Kata
            Dari segi bentuknya, kata dapat dibedakan atas empat macam, yaitu :
1.  Kata Dasar
2.  Kata Turunan
3. KataUlang
4. KataMajemuk
1.  Kata Dasar
            Kata dasar adalah kata yang tidak berimbuhan atau yang belum diberikan awalan, akhiran, sisipan, dan penggabungan awalan akhiran.  Kata-kata seperti baik, getar, kerja, sakit, gunung disebut sebagai kata dasar karena kata-kata itu tidak berimbuhan atau belum diberi imbuhan. Jika kata- kata itu diberi imbuhan, hasilnya antara lain terbaik, getaran, pekerja, kesakitan, dan pegunungan. Jika sudah mengalami penambahan atau pengimbuhan, kata tersebut sudah dikategorikan ke dalam kata turunan.
2.  Kata Turunan
            Sebuah kata dapat menyampaikan beberapa pengertian melalui bentukan-bentukannya. Dari satu kata pula, kita dapat membuat atau mengembangkannya menjadi beberapa kata turunan. Dari kata turunan tersebut, kita dapat mengungkapkan satu bahkan beberapa ide/perasaan. Pemekaran kata dengan memberi imbuhan itu pun akan membuat kata-kata tersebut mengalami perubahan jenis atau kelas katanya. Coba Anda amati kata satu termasuk kata bilangan/numeralia yang berarti “bilangan asli pertama”. Kata satu diberi awalan ber- menjadi bersatu. Kata tersebut mengalami perubahan arti, meskipun masih memiliki arti dasar yang tetap, yaitu “satu”, bersatu artinya berkumpul atau bergabung menjadi satu. Kata bersatu bukan merupakan kelas kata bilangan lagi, tetapi termasuk kelas kata kerja.
            Bagaimana pengimbuhannya?
            Anda telah melihat bahwa dari satu kata (misalnya satu) dapat kita bentuk belasan kata turunannya. Bentuk berimbuhan tersebut menunjukkan pertalian yang teratur antara bentuk dan maknanya. Hal ini dapat berlaku pula pada kata-kata yang lainnya. Perhatikan tabel berikut dengan cermat.
Kata Asal
Pelaku
Proses
Hal/Tempat
Perbuatan
Hasil
Verba
asuh
pengasuh
pengasuhan

mengasuh
asuhan
Baca
pembaca
pembacaan

membaca
bacaan
bangun
pembangun
pembangunan

membangun
bangunan
buat
pembuat
pembuatan
perbuatan
membuat
buatan
cetak
pencetak
pencetakan
percetakan
mencetak
cetakan
edar
pengedar
pengedaran
pengedaran
mengedar
edaran
potong
pemotong
pemotongan
perpotongan
memotong
potongan
sapu
penyapu
penyapuan
persapuan
menyapu
sapuan
tulis
penulis
penulisan

menulis
tulisan
ukir
pengukir
pengukiran

mengukir
ukiran
impor
pengimpor
pengimporan

mengimpor
imporan
                                                     
3. Kata Ulang
            Kata ulang adalah kata yang mengalami proses pengulangan bentuk baik seluruh kata  maupun sebagian. Semua kata ulang wajib di tulis dengan memakai tanda penghubung ( - ).
         Contoh :
               lauk-pauk  
anak-anak  
berjalan-jalan    
gerak-gerik  
dibesar-besarkan  
huru-hara

Macam-macam kata ulang
1.  Ulangan seluruh kata dasar
Contoh:
anak-anak
meja-meja
buku-buku
ibu-ibu
main-main
makan-makan
      
2.  Ulangan kata dengan memberi imbuhan
       Contoh:
                        berjalan-jalan                             bermanja-manja
                        dibesar-besarkan                      dipukul-pukulkan
berlari-larian                             menarik-narik
3. Ulangan seluruh kata, namun terjadi perubahan suara pada kata yang kedua
Contoh:
gerak-gerik  
mondar-mandir    
huru-hara  
bolak-balik  
lauk-pauk
caci-maki
compang-camping
terang-benderang
carut-marut


4. Ulanganseluruhkatayangdinamakankataasal
Misalnya :
anai-anai                     ubur-ubur
kunang-kunang           lobi-lobi
kupu-kupu                  mata-mata
agar-agar

4.   Kata Majemuk
Kata majemuk adalah gabungan dua kata atau lebih yang membentuk satu pengertian.
Contoh:
duta besar
kereta api senja utama
meja tulis guru
rumah makan
terjun payung
buku sejarah baru
kereta api cepat luar biasa
lapangan udara
rumah sakit jiwa
siap tempur
            Contoh di atas menunjukkan bahwa kata dasar majemuk dapat sendiri dari gabungan dua kata, tiga kata, empat kata, lima kata bahkan dapat lebih. Hal yang terpenting adalah gabungan kata-kata itu harus menunjuk kepada satu arti dan tidak melebihi batas fungsi sebagai kata.
            Cara penulisan kata majemuk ada yang terpisah atas dua kata atau lebih, seperti contoh tadi (duta besar, rumah makan) dan ada yang ditulis serangkai (jika hubungan kedua kata sudah sangat padu).
Contoh:
matahari                  kacamata
sapu tangan            beasiswa
olahraga                 antarkota
C. Klasifikasi Kata Berdasarkan Makna Kata
            Kita sudah mempelajari proses pembentukan kata yang semua itu berpengaruh pada perubahan makna kata dari makna awalnya. Selain proses bentukan kata, makna kata juga dapat ditimbulkan oleh dua hal, yaitu hubungan referensial dan hubungan antar makna.

1. Makna Kata Berdasarkan Hubungan Referensial
    Makna kata ini dibedakan menjadi:
a. Makna denotatif
Makna denotatif ialah makna yang paling dekat dengan bendanya (makna konseptual), atau kata yang mengandung arti sebenarnya.
Contoh:
1.    Bunga mawar itu dipetik Sita dan disuntingkan di rambutnya.
2.    Untukmenafkahikeduaanaknya,iamenjualsayuran di pasar.
3.    Penjual menawarkan barang kepada pembeli.
4.    Bajunya basah kuyup terkena keringat.
b. Makna konotatif
Makna konotatif ialah makna kiasan atau diartikan makna yang cenderung lain dengan benda nyata (makna kontekstual) disebut juga makna tambahan.
    Contoh :
1.    Ayahnya mendapat kursi sebagai anggota dewan. kursi artinya jabatan/kekuasaan
2.    Hatiku berbunga-bunga setelah anakku mendapat juara pertama. berbunga-bunga artinya gembira
3.    Sekarang ia bekerja di tempat yang basah. basah artinya selalu menghasilkan uang
       Dalam pengertian lain makna konotasi berkaitan dengan cakupan makna halus dan cakupan makna kasar.
Contoh cakupan makna halus:
1.    Neneknya sudah meninggal dua hari yang lalu.
2.    Istri Pak Dadang seorang perawat di rumah sakit pusat.
3.    Ibunya Rosita sedang hamil lima bulan.
4.    Mari kita doakan para pahlawan yang telah gugur agar arwahnya diterima oleh Allah.
     Contoh cakupan makna kasar:
1.    Pamannya sudah mampus seminggu yang lalu.
2.    Kakakku sedang bunting, dia harus berhati-hati.
3.    Bininya seorang dokter.
4.    Pahlawan telah mati di medan laga.
c.  Makna idiomatik (ungkapan)
Secara umum ungkapan berarti gabungan  kata yang memberi arti khusus atau kata-kata yang dipakai dengan arti lain dari arti yang sebenarnya.
Ungkapan dapat juga diartikan makna leksikal yang dibangun dari beberapa kata, yang tidak dapat dijelaskan lagi lewat makna kata-kata
pembentuknya.
Contoh:
−     ringantangan                          = rajinbekerja,sukamemukul
−     geraklangkah                         = perbuatan
−     dipeti-eskan                          = dibekukanatautidakdigunakan
−     tertangkapbasah                    = terlihatsaatmelakukan
−     galilubangtutuplubang         = pinjamsini,pinjamsana
−     bantingstir                              = mengubahhaluan
−     jantunghati                             = kekasih
Ungkapan berfungsi menghidupkan, melancarkan serta mendorong perkembangan bahasa Indonesia supaya dapat mengimbangi perkembangan kebutuhan bahasa terhadap ilmu pengetahuan dan keindahan sehingga tidak membosankan. Tata bahasa ibarat kebun, ungkapan ibarat kembang-kembangnya. Dilihat dari bentuk dan prosesnya, ungkapan dapat diperinci ke dalam beberapa jenis berikut.
1.  Menurut jumlah kata
a.  Dua kata
−     mencari ilham                      : berusaha mencari ide baru
−     bercermin bangkai               : menanggung malu


b.  Tiga kata atau lebih
−     diam seribu bahasa                          : membisu
−     hutangnya setiap helai bulu   : tak terhitung banyaknya
2.  Menurut zaman
a.  Ungkapan lama
−     matanya bagai bintang timur                        : bersinar, tajam
−     rambutnya bagai mayang mengurai         : ikal, keriting
−     berminyak air                                             : berpura-pura
b.  Ungkapan baru
−     ranjau pers                         : undang-undang pers
−     berebut senja                      : siang berganti malam
−     ranum dunia                        : penyebab kesulitan
3. Menurutasalnya
a.  Ungkapan berasal dari bahasa asing
−     black sheep                        : kambing hitam
−     over nemen                        : mengambil oper
−     side effect                          : akibat samping
b.  Ungkapan berasal dari bahasa daerah
−     soko guru                            : suri tauladan
−     anak bawang                       : yang tidak diutamakan
2. Makna Kata Berdasarkan Hubungan Antar makna
            Makna kata berdasarkan hubungan antar makna terdiri atas sinonim, antonim, dan hiponim.
a. Sinonim
            Sinonim ialah pasangan kata atau kelompok kata yang mempunyai arti mirip atau hampir sama. Walaupun sinonim menunjukkan kesamaan arti kata, sesungguhnya arti kata-kata itu  tidaklah sama betul. Dalam kalimat tertentu, suatu kata mungkin dapat digunakan tetapi dalam kalimat lain tidak dapat digunakan atau penggunaannya selalu dipertimbangkan oleh unsur nilai rasa atau lingkungan penuturnya (kontekstual).
Contoh sinonim dengan kata yang sama maknanya :
−     BungHattatelahwafat.(telah=sudah)
−     KitamerdekakarenajasaBungHatta.(karena=sebab)
−     BungHattasangatberjasa.(sangat=amat)
Contoh beberapa kata yang memiliki kemiripan makna :
−     Tepat di muka gedung kantor pos Jakarta berdirilah sebuah kompleks bangunan kuno yang kukuh.
−     Persis di bangunan kantor pos Jakarta kota     tertancaplah sebuah kawasan bangunan kolot yang kuat.
            Makna kalimat 1 dan 2 sama. Namun kalimat 1 lebih jelas isinya, kalimat 2 pilihan katanya kurang tepat sehingga pembaca / pendengar menjadi ragu menafsirkan maknanya.
b. Antonim
            Antonim adalah kata-kata yang berlawanan maknanya/berlawanan artinya.
Contoh:
a)  Sejaksakitbatuk,iapantang minum es.
Ia harusmeminumobat itu sesuai yang dianjurkan oleh dokter.
b)  Aksipenebanganpohonmerupakanperusakan hutan.
Pemerintah menghimbau agar warga melestarikan hutan.
c)  Kadang-kadang ia berlatih seminggu sekali.
Nasihat orang tuanya seringkali tidak didengarnya.
d) Perkembangananakitusangatlambat.
Dengan tangkasnya, ia menendang bola ke mulut gawang.
            Terdapat beberapa perbedaan antara kata-kata yang berantonim. Oposisi antarkata dapat berbentuk seperti berikut.
a.  Oposisi kembar
     Contoh:
−   laki-laki-perempuan
−   jantan–betina
−   hidup-mati
b.  Oposisi majemuk
Contoh:
−   baju-merah
−   sapu- tangan
−   rumah-makan
c.  Oposisi gradual
Contoh:
−   kaya- miskin
−   panjang- pendek
d. Oposisirelasional(kebalikan)
Contoh:
−   orangtua-anak
−   guru-murid
−   memberi-menerima
e.  Oposisi inversi
Contoh:
−   Jual-beli
−   Pulang-pergi
f. Oposisikomplementer
Contoh:
−   mur-baut
−   kompor-minyak
g.  Oposisi inkompabilitas
Contoh:
−   merah-hijau
h.  Oposisi hierarki
Contoh:
-    camat lurah.
c. Hiponim
            Hiponim ialah   kata yang memiliki hubungan hierarkis dengan beberapa kata yang lain. Hubungan hierarki ini terdiri atas satu kata yang merupakan induk (hipernim), yang memiliki semua komponen makna kata lainnya yang menjadi unsur bawahannya (hiponim).Proses hiponim dan hipernim menimbulkan istilah kata umum dan kata khusus.
            Kata umum dipakai untuk mengungkapkan gagasan umum, sedangkan kata khusus digunakan untuk perinciannya. Jadi, kata umum dapat diterapkan untuk semua hal,   sedangkan kata khusus diterapkan untuk hal tertentu saja. Contoh penggunaan kata umum dan khusus dalamkalimat seperti berikut.
1.  Pukul 07.00 WIB bel berdering cukup keras.
Berdering (kata khusus), biasanya digunakan untuk bunyi bel. Kata umumnya ialah bunyi. Kata bunyi bisa digunakan untuk semua suara benda/sesuatu.
2.  Untuk menyambut tahun baru, Ibu merangkai melati dan mawar.
Kata melati dan mawar merupakan kata khusus. Kata umumnya ialah bunga. Berdasarkan contoh penggunaan kata umum dan kata khusus di atas, cermatilah kata umum dan kata khusus pada tabel berikut ini.
Kata Umum                             Kata Khusus
                        Melihat                                     memandang, menonton, meratap,
                                                                        menyaksikan, menengok, mengintip
                        Mamalia                                   sapi, kambing, kucing
                        pola hidup                                berfoya-foya,boros,irit,mewah, sederhana
                        musik                                       jazz, rock, keroncong.
                        Kendaraan                               mobil, motor, bus
                                  Membawa                                menjinjing, memikul, memanggul, menenteng,
                                                                                  menggendong
                        memotong                                memenggal, mengiris, menebang,
                                                                        memancung, menggergaji

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar