Rabu, 26 Oktober 2011

Kelas x Smt 2,Kompetensi Dasar : Bercakap-cakap secara sopan dengan mitra bicara dalam konteks bekerja

BERCAKAP-CAKAP SECARA SOPAN
DENGAN MITRA BICARA DALAM KONTEKS
BEKERJA
A. Pilihan  Kata  atau  Ungkapan  untuk  Memulai Percakapan
Proses   penyampaian bahasa  Indonesia dalam berkomunikasi  secara lisan  dapat  dilakukan  dalam  dua  cara,  yaitu  secara  langsung  dan  tidak langsung.  Secara  langsung maksudnya  berhadapan  atau  bertatap muka dengan mitra bicara dan tidak langsung ialah dengan menggunakan sarana seperti  telepon  atau media komunikasi yang  lainnya.   Apa pun  caranya, yang  jelas setiap proses komunikasi dilakukan dengan  tujuan agar pesan yang disampaikan dapat dipahami oleh kedua pihak sehingga terjadi hasil yang efektif dan memuaskan.
Agar  dapat  terjadi  hubungan  komunikasi  timbal  balik  yang  sesuai dengan  tujuan  komunikasi,  segala  hal  yang  berkaitan  dengan  proses komunikasi  harus diperhatikan. Unsur utama dalam  komunikasi  adalah bagaimana  seseorang dapat   menggunakan  bahasa  yang  baik dan  tepat.  Selain  itu, perlu dipertimbangkan pula aspek situasi, waktu,  tempat, dan hubungan pembicara mitra atau kawan bicaranya, misalnya, saat membuka percakapan,  saat  menyampaikan  pesan,  dan  ketika  akan  menutup pembicaraan. Hal  ini biasanya memengaruhi pilihan kata dan ungkapan yang digunakan dalam percakapan.
Untuk  memulai  percakapan  dalam  situasi  formal  biasanya  menggunakan ungkapan sebagai berikut.
1.  Selamat pagi.
2.  Selamat siang.
3.  Selamat malam.
4.  Assalamu’alaikum  pemirsa di mana saja Anda berada.
5.  Salam sejahtera bagi kita semua.
6.  Selamat malam para pendengar radio.
7.  Selamat datang.
Atau ucapan pembuka dengan sapaan:
1.  Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu serta hadirin ... selamat malam.
2.  Para tamu undangan yang kami muliakan.
3.  Assalamu ‘alaikum, Saudara-saudaraku ....
4.  Yang terhormat dewan guru ....
5.  Yang saya hormati Kepala Sekolah ....
6.  Teman-teman yang saya cintai, selamat pagi ....
7.  Siswa-siswi yang saya sayangi ....
8.  Para pendengar setia radio Sonora, selamat berjumpa.
9.  Hadirin yang berbahagia, selamat datang, selamat malam ....
10.  Para karyawan PT. Sejahtera, selamat siang ....
11.  Sahabat yang dimuliakan Allah, Assalamu’alaikum ....
12.  Para pemirsa, kita berjumpa lagi selama tiga puluh menit ke depan ....
13.  Selamat malam, Pak, saya Ardi. Bisa bertemu dengan ....
14.  Selamat pagi, apakah saya bisa bertemu dengan Bapak ....

Ungkapan  pembuka lewat telepon dalam ragam formal:
1.  Assalamu’alaikum…
2.  Selamat pagi. Bisa bicara dengan… saya dari…
3.  Selamat sore, ada yang bisa saya bantu?
4.  Halo, selamat siang…
5.  Selamat pagi. Saya Ahmad. Bisa bicara dengan...
6.  Wa’alaikum salam, Yayasan Restu Ibu, ada yang bisa kami bantu?
7.  PT. Rahmat, Assalamu’alaikum, ada yang bisa dibantu?
8.  Cafe Halal, Selamat Malam...
9.  Selamat sore. Maaf mengganggu, bisa bicara dengan...
Ungkapan  atau  salam  pembuka  pada  percakapan  di  telepon  dalam situasi nonformal:
1.  Halo, gimana kabarnya?
2.  Halo, Rahmatnya ada?
3.  Halo, ada Wiwin, Bu?
4.  Halo, Pak. Bisa dengan Zulkifi?
B.  Salam dan Ungkapan dalam Mengakhiri Percakapan
Ketika  akan  mengakhiri  percakapan  biasanya  seseorang  akan menegaskan  kembali  hal-hal  pokok  yang  berkaitan  dengan  materi pembicaraan yang dianggap penting untuk diingat atau dilakukan kepada kawan  bicaranya.  Selanjutnya  baru  menyampaikan  ucapan  penutup pembicaraan.  
Saat akan mengakhiri percakapan, biasanya pembicara mengucapkan hal-hal seperti di bawah ini.
1.  Menegaskan kembali yang  hal penting dari apa yang telah dibicarakan agar tetap diingat atau tak lupa untuk dilakukan.
Dalam situasi formal
Contoh:
1.  Baiklah, jangan lupa datang di acara wisudaku.
2.  Baiklah  pemirsa  di  rumah,  jika  ada  saran  dan  kritik,  kirimkan   ke ...
3.  Jadi, jangan sampai lupa rencana kita.
4.  Baiklah, sampai bertemu besok di rapat.
5.  Sebelum mengakhiri diskusi ini, saya ingatkan  kembali ....
6.  Sebelum menutup rapat ini, saya tegaskan kembali ....
7.  Demikian yang bisa saya sampaikan, ingat ....
8.  Sekian saja pertemuan kita hari ini, jangan lupa ....
      9.  Sebelum ditutup, saya ingatkan kembali ....
     10.  Sebagai penutup, kita simpulkan bahwa ....
     11. Insya Allah, kita akan mengadakan pertemuan kembali ....
Dalam situasi nonformal
Contoh:
1.  Oke, jangan lupa besok ketemu ....
2.  Udah dulu, ya, pokoknya besok ....
3.  Oke, jadi, kan besok?
4.  Sampai minggu depan, ingat kita masih ada urusan
5.  Sip deh, jadi kita besok berangkat ....
 Mengucapkan terima kasih
Dalam situasi formal
Contoh:
1.  Atas perhatian Bapak dan Ibu sekalian, kami mengucapkan terima kasih.
2.  Terima kasih atas waktu dan kesempatannya.
3.  Terima kasih atas kesedian waktunya.
4.  Terima kasih atas segala bantuan yang telah diberikan.
5.  Terima kasih untuk pesan-pesannya.

Dalam situasi nonformal
Contoh:
a.  Makasih banyak!
b.  Makasih, ya!
c.  Trims, yuk!
d.  Thanks sudah mau kasih saran!
3.  Permintaan maaf
Dalam situasi formal
Contoh:
1.  Kami mohon maaf jika ada pelayanan yang tak berkenan.
2.  Mohon maaf jika ada kata-kata yang tak pantas.
3.  Sebelumnya kami mohon maaf  bila tak berkenan ....
4.  Mohon maaf atas keterlambatan ....
5.  mohon dibukakan pintu maaf jika ada kesalahan ucapan ....
Dalam situasi nonformal
Contoh:
1.  Maaf, ya, kalau ada salah ucap.
2.  Maafn ya, kalau ada salah kata.
3.  Maaf, ya!

4.  Ungkapan perpisahan serta harapan
Dalam situasi formal
Contoh:
1.  Selamat jalan semoga sampai ditujuan.
2.  Semoga berhasil, sampai jumpa.
3.  Selamat berpisah, semoga kita bertemu lagi.
4.  Sampai berjumpa dalam kesempatan yang lain.
5.  Sampai di sini dulu pertemuan kita, semoga sukses.
Ucapan perpisahan nonformal
Contoh:
1.  Dada ...
2.  Bye ...
3.  Goodbye ..
4.  Sampai nanti,ya ..
5.  Dah, yuk!
6.  Sampai nanti, ya!
7.  Salam buat keluarga, ya!

5. Menutup percakapan dengan salam penutup. Salam penutup biasanya disesuaikan dengan salam pembuka atau berdaarkan waktu.
Dalam situasi formal
Contoh:
1.  Assalamu’alaikum.
2.  Selamat malam.
3.  Selamat siang.
Salam penutup dalam situasi nonformal
Contoh:
1.  Met malam!
2.  Malam.
3.  Assalamu’alaikum.
4.  Siang.
C.  Penerapan Pola gilir dalam Percakapan secara Aktif
Dalam percakapan  terkadang  terjadi pola satu arah diakibatkan oleh seseorang mendominasi pembicaraan. Agar percakapan dapat berlangsung dengan merata dalam arti setiap orang yang terlibat percakapan mendapat giliran  yang  sama  dalam  berbicara,  dapat  diterapkan  sistem  pola  gilir. Penerapan pola gilir dapat dilakukan dengan  cara melemparkan pertanyaan. Apalagi  jika Anda moderator  atau  pemimpin  dalam  diskusi, Anda  bisa meminta anggota lainnya memberikan pendapat, gagasan, atau penilaian.
Di bawah ini, beberapa contoh ungkapannya.
1.  Bagaimana menurut pendapat Anda?
2.  Mungkin di antara kalian ada yang berpendapat lain?
3.  Menurut pandanganmu gimana?
4.  Adakah yang memiliki pendapat lain?
5.  Mungkin ada yang mempunyai gagasan lain?
6.  Saya yakin ada yang mempunyai pendapat yang lebih baik.
D. Mengalihkan Topik Pembicaraan secara Halus
Dalam suatu percakapan baik formal, semi formal, maupun nonformal, pengalihan pembicaraan ke topik lain biasa terjadi. Hal ini bisa diakibatkan karena adanya keterkaitan antara satu masalah  terhadap masalah lainnya atau  satu  topik  terhadap  topik  lainnya.  Dalam  suatu  pembicaraan, pengembangan  gagasan  atau  meluasnya  pembicaraan  kepada  pokok pembicaraan  yang  lain  masih  dianggap  wajar  jika  tetap  pada  pokok persoalan yang sedang dibahas.
Proses  pengalihan  topik  pembicaraan  bisa  disadari  dan  juga  tidak disadari. Jika memang harus dilakukan, pengalihan topik dapat dilakukan secara  halus  dan  santun  agar  tak  mengganggu  kenyamanan  proses percakapan yang  tengah berlangsung. Pengalihan  topik dapat dilakukan dengan ungkapan berikut.
1.  Mungkin ada kaitannya dengan ....
2.  Mungkin menyimpang sedikit, tapi ....
3.  Bagaimana menurut Anda mengenai faktor lain seperti ....
4.  Maaf, saya dengar Ibu suka juga pada ....
5.  Bagaimana jika kita meninjau sisi lain misalnya ....
6.  Persoalan ini berkaitan juga dengan masalah...
Dalam  situasi  nonformal,  pengalihan  topik  pembicaraan  dapat dilakukan dengan menyatakan ungkapan:
1.  Saya dengar Bapak bisa melakukan hal lain, seperti ....
2.  Wah, makin seru kalau kita bicara soal ....
3.  Boleh tau pandangan Ibu tentang ....
Pengalihan topik dalam suatu diskusi bisa saja menyimpang dari pokok persoalan  semula.  Hal  ini  tidak  boleh  dibiarkan.  Jika Anda  moderator, Anda harus bisa mengembalikan pembicaraan yang menyimpang tersebut kembali pada topik pembicaraan yang sebenarnya, dengan mengucapkan:
1.  Maaf, pertanyaan agar dipersingkat.
2.  Maaf, pertanyaan langsung ke pokok permasalahan.
3.  Pertanyaan agar terfokus pada topik pembicaraan ....
4.  Saya ingatkan kembali bahwa topik pembicaraan kita adalah ....



E.  Menggungkapkan  Perbedaan  Pendapat  secara Halus 
Perbedaan pendapat di antara pembicara baik pada forum diskusi atau situasi semiformal sudah biasa terjadi. Tidak setiap orang selalu menyetujui pendapat  mitra  bicaranya.  Masing-masing  orang  memiliki  pandangan atau  pemikirannya  sendiri.  Tetapi,  perbedaan  pendapat  itu  tak  boleh menjadi  pemicu  konfik.  Perbedaan  pendapat  dapat  semakin  memberi wawasan  yang  lebih  luas  tentang  suatu  pokok  permasalahan.  Mencari solusinya  bisa  lebih  variatif.  Segala unsur  yang  berbeda dicarikan  sudut persamaannya  atau disinergikan untuk mengarah pada  satu kesimpulan atau penyelesaian. Bukan hanya itu saja, setiap perbedaan pendapat harus dihormati dan disikapi secara santun. Ungkapan seperti, mustahil, itu tidak benar, pendapatnya tidak masuk akal, dan itu gagasan orang bodoh harus dihindari. Ungkapan itu bukan saja dapat menyinggung mitra bicara, tetapi juga bisa merendahkan harga diri orang.     
Menyampaikan  pendapat  yang  berbeda  atau menyanggah  pendapat orang  lain  yang  berbeda  dengan  pendapat  kita  dapat  dilakukan  secara halus dengan mempertimbangkan hal-hal berikut.
(1)  Nyatakan permohonan “maaf” dahulu.
(2) Berikan  kesan  mendukung  gagasan  yang  akan  disanggah  sebelum menyertakan kekurangannya.
(3) Ungkapkan kekurangan dengan perkataan yang halus seperti, “kurang” atau “belum,” bukan kata-kata “tidak”.
(4)  Ungkapkan  kekurangan  pendapat mitra  bicara  dengan  alasan  yang logis.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar