Rabu, 26 Oktober 2011

Kelas x Smt 1,Kompetensi Dasar : Menerapkan pola gilir dalam berkomunikasi

A. Menggunakan Kata, Bentukan kata, serta Kalimat yang Santun dalam Berkomunikasi
            Dalam berkomunikasi yang baik seseorang dituntut untuk mempertimbangkan situasi berbicara. Pertimbangan ini memunculkan bentuk ragam berbahasa. Situasi resmi tentu berbeda dengan situasi tidak resmi. Pembicaraan pada situasi resmi cenderung menggunakan kata, bentukan kata, serta ungkapan yang baku. Berbeda dengan ragam tidak resmi yang digunakan saat santai, saat bergaul, dan dalam suasana akrab (konsultatif) tidaklah harus menggunakan bentukan kata dan susunan kalimat yang baku.
            Perhatikan contoh berikut!
1.   Terima kasih saya ucapkan atas kehadiran Bapak dan Ibu sekalian di tempat ini dalam rangka memenuhi undangan kami
2.   Makasih, ya, atas kedatangan kamu semua pada perayaan hari ulang tahunku!
3.   Thanks berat, ye! Akhirnya, lu pada dateng juga ke sini tuk menuhin undangan gue.
             Kalimat nomor satu sangat berbeda dengan nomor dua dan tiga, baik pada tataran pilihan kata, bentukan kata maupun susunan gramatikal kalimatnya. Kalimat nomor satu digunakan dalam situasi resmi, sedangkan kalimat kedua dan ketiga dalam bentuk situasi umum atau akrab. Pada situasi santai atau akrab, seseorang lebih bebas memilih kata dan bentukannya dari pada saat situasi resmi atau formal. Berkomunikasi dalam kondisi dan situasi apa pun, yang terpenting adalah bisa menciptakan komunikasi yang efektif dan lancar.
            Untuk mencapai komunikasi yang efektif proses penyampaian dan etika berbahasa yang santun tetap harus diperhatikan. Kata-kata kasar sebaiknya dihindari. Selain kurang pantas, kata-kata kasar  juga menyinggung perasaan orang lain.
            Di samping itu, dalam situasi komunikasi yang terdiri atas dua atau lebih  orang, sikap saling menghargai dan menerapkan pola gilir dengan memberikan kesempatan berbicara akan menciptakan kelancaran serta suasana yang lebih nyaman.

B.  Memahami Pola Gilir dalam Berkomunikasi
            Pemahaman terhadap pola gilir sangat penting dalam keberhasilan berkomunikasi. Komunikasi   harus berjalan dua arah (ada yang mendengarkan dan ada yang berbicara). Dengan adanya pola gilir diharapkan komunikasi akan seimbang dan berjalan lancar karena adanya proses pergantian bicara sesuai topik pembicaraan atau sesuai keperluan.
            Beberapa sikap yang harus dimiliki ketika menerapkan pola gilir dalam berkomunikasi antara lain seperti berikut
1.  Menghargai mitra bicara.
     Dalam kegiatan berkomunikasi, kita tidak boleh meremehkan lawan bicara, bagaimanapun keadaan lawan bicara tetap kita hormati dan hargai.
2.  Peka terhadap kesempatan
     Dalam kegiatan berkomunikasi secara lisan, sering terjadi dominasi satu pihak saat bicara terhadap pihak lain. Kita harus sadar dan mengetahui kapan saatnya kita bicara dan kapan saatnya kita diam untuk mendengarkan sehingga proses komunikasi berlangsung lancar dan nyaman.
3.  Sadar akan relevansi pembicaraan.
     Komunikasi berjalan dengan lancar dan mencapai tujuan jika pembicaraan sesuai dengan permasalahan sehingga tercipta komunikasi yang efektif dan lancar.
4.  Memilih kata yang tepat
     Memilih dan menggunakan kata bentukan kata dan ungkapan yang santun sesuai dengan situasi komunikasi, demi kelangsungan dan kenyamanan komunikasi. Berkomunikasi dalam kondisi dan situasi apa pun tetap memperhatikan etika berbahasa yang santun hindari kata-kata kasar, kurang pantas yang dapat menyinggung perasaan pihak yang diajak bicara.
C.  Penerapan Pola Gilir dalam Berbagai Situasi
            Menerapkan pola gilir komunikasi dapat terjadi pada situasi-situasi berikut.
(1) Suasana kehidupan sehari-hari, seperti di rumah tangga, di sekolah, di pasar, di kantor , di arisan, dan sanggar.
(2)  Diskusikelompok,seperti  disekolahdandikampus,kegiatan pramuka, dan di dunia kerja.
(3)  Film atau sinetron
(4)  Naskah drama dan pementasan drama
            Berikut beberapa contoh penerapan pola gilir dalam berkomunikasi.
1.  Penerapan Pola Gilir dalam Diskusi
            Diskusi adalah bentuk kegiatan berbicara dalam rangka membahas sesuatu masalah secara teratur dan terarah. Diskusi bertujuan mencari jalan keluar, pemecahan masalah,  membuat keputusan,  atau simpulan. Untuk dapat memahami pola gilir berkomunikasi dalam satu diskusi, kita harus memahami lebih dahulu hal-hal yang berkaitan dengan diskusi. Hal-hal yang berkaitan dengan kegiatan diskusi, antara lain sebagai berikut.
a.   Unsur-Unsur Diskusi
Unsur-unsur yang terlibat dalam diskusi, adalah sebgai berikut.
(1) Pemimpin/Moderator, bertugas merencanakan dan mempersiapkan dengan teliti topik  diskusi, membuka diskusi, mengatur jalannya diskusi, serta menutup diskusi.
(2)  Sekretaris, bertugas mencatat jalannya diskusi, masalah-masalah yang dilakukan peserta, saran maupun jawaban penyaji dari awal sampai akhir.
(3)  Penyaji/pemakalah/pemrasaran, bertugas menyampaikan pembahasan dengan sistematis, mudah dipahami, tidak menyinggung peserta, terbuka, dan bersikap objektif dalam meninjau suatu persoalan.
(4)  Peserta diskusi, bertugas menanggapi, memberi masukan, dan lain-lain.
b.   Jenis-jenis diskusi
Berdasarkan ruang lingkupnya, diskusi dibedakan seperti berikut.
(1)   Diskusi kelompok,  adalah jenis diskusi yang biasa dilakukan di dalam kelas untuk membahas suatu masalah.
(2)   Diskusi panel, adalah diskusi yang dilakukan oleh sekelompok orang (yang disebut panel) yang membahas suatu topik yang menjadi perhatian umum di hadapan khalayak/pendengar,penonton. Khalayak diberi kesempatan untuk bertanya atau memberikan pendapat.
(3)   Seminar,  adalah pertemuan untuk membahas suatu masalah di bawah pimpinan ahli (misalnya guru besar atau pakar)
(4)   Simposium,  adalah pertemuan dengan beberapa pembicara yang mengemukakan pidato singkat tentang topik tertentu atau tentang beberapa aspek dari topik yang sama.
(5)   Kongres, adalah pertemuan wakil organisasi untuk mendiskusikan dan mengambil keputuan mengenai pelbagai masalah.
(6)   Konferensi  adalah rapat atau pertemuan untuk berunding atau bertukar pendapat mengenai suatu masalah yang dihadapi bersama.
(7)   Lokakarya  adalah pertemuan antara para ahli atau pakar untuk membahas masalah praktis atau yang bersangkutan dengan pelaksanaan di bidang keahliannya.
(8)   Sarasehan adalah pertemuan yang diselenggarakan untuk mendengarkan pendapat para ahli mengenai suatu masalah dalam bidang tertentu.
c.  Teknik dan Tahapan dalam diskusi
            Teknik diskusi berkaitan dengan bentuk dan jenis diskusi. Untuk tatanan sekolah
tatanan sekolah, bentuk diskusi cukup bersifat umum dan sederhana. bentuk diskusi cukup bersifat umum  dan sederhana. Susunan tempat duduk dalam  diskusi Susunan tempat duduk dalam diskusi dapat dilihat pada skema berikut.




S
S
S


X


MEJA




S
S
S







S






S



X


MEJA






S







S







S






S




S


X



MEJA




S






S







S


S


S  S  S  S  S


S



S




S   S   S


S
S



S



S   S   S    S   S


Keterangan gambar
X              Pimpinan Diskusi
S              Peserta Diskusi
            Ada dua tahap dalam pelaksanaan diskusi, yaitu tahap persiapan dan tahap pelaksanaan atau penampilan.
1)   Tahapan Persiapan
a.  Tahap persiapan dilaksanakan dengan tujuan memperoleh kesepakatan mengenai hal yang akan dibicarakan.
b. Membagikan tugas kepada para calon pembicara atau penyaji jika pembicara lebih dari satu.
2)  Tahap Pelaksanaan
     Ada empat tahap yang harus dilalui dalam pelaksanaan diskusi.
a)   Pembukaan
    Pimpinan diskusi mengemukakan pokok masalah yang akan disampaikan dan memperkenalkan calon pembicara.
Contoh ucapan moderator:
1.   Dalam diskusi kali ini, kita akan membicarakan ....
2.   Marilah kita buka diskusi ini dengan membaca/berdoa ....
3.  Saya perkenalkan pembicara dalam diskusi ini ialah Saudara... notulis Saudara ....
b)    Pelaksanaan diskusi
     Pemimpin diskusi mempersilakan para pembicara menyampaikan pandangannya. Selanjutnya sanggahan atau dukungan dari pembicara disampaikan  sesuai dengan aturan yang telah disepakati.
Contoh ucapan moderator:
1.  Saya persilahkan Sdr ... menyajikan makalahnya.
     Contoh Ucapan penyaji :
1.   Terima kasih atas kesempatan yang diberikan moderator kepada saya untuk ....
c)  Acara tanya jawab
Pemimpin diskusi mempersilakan para pendengar/peserta mengajukan pertanyaan kepada pembicara dipandu oleh pemimpin diskusi, pembicara/penyaji.
Contoh ucapan moderator:
1. Saya beri kesempatan 3 orang peserta mengajukan pertanyaan, pendapat atau  tanggapannya.
2.   Penanya pertama silakan ....
3. Penyaji silahkan memberikan jawaban atau tanggapan balik (peserta yang mengacungkan jari lebih dahulu yang diberikan kesempatan pertama dan bergilir selanjutnya)
Contoh ucapan peserta :
1.  Terima kasih atas kesempatan yang diberikan moderator. Pertanyaan saya yaitu ....
2.    Tadi saudara pembicara menjelaskan ... menurut pendapat saya ....
3.    Saya mohon kepada pembicara pertama untuk menjelaskan....
4.   ... demikian usulan dari saya.
Contoh ucapan penyaji:
1.  Terima kasih atas pertanyaan Saudara ... dan jawaban saya sebagai berikut .....
2.   Terima kasih atas tanggapan Saudara ..... tentang ....
d)  Penutup
            Pembacaan simpulan pembahasan diskusi yang telah berlangsung oleh pemimpin diskusi.
2.  Penerapan Pola Gilir dalam Pementasan Drama
            Naskah drama dipersiapkan sebelum drama diperankan atau dipentaskan. Naskah drama adalah cerita yang ditulis dalam bentuk dialog disertai gerak-gerik dan tingkah laku para tokoh dalam drama.
            Dalam sebuah drama, kedudukan pelaku sangat penting. Untuk mementaskan sebuah drama, seorang pemain harus memahami isi drama termasuk proses dialog. Dalam dialog,   telah diatur penggiliran pembicaraan diantara para tokoh. Setiap tokoh telah diatur kapan saat menjawab, menanggapi, merespons tokoh lainnya. Meskipun unsur spontan (improvisasi) ada dalam dialog drama, namun tokoh yang berimprovisasi tetap harus memerhatikan dengan cermat saat melakukan improvisasi dialog agar tidak bertabrakan dengan perkataan tokoh lain.
            Beberapa hal yang harus diperhatikan jika memerankan tokoh dalam drama adalah seperti berikut.
a.  Teknik Berdialog
Agar penonton menangkap jalan cerita drama, para pelaku harus menyampaikan dialog dengan jelas, ucapan harus wajar, tidak dibuat-buat.
b.  Mimik
Mimik merupakan perubahan raut muka, misalnya tersenyum karena senang, mengerutkan dahi ketika sedang berpikir, atau menegang saat marah.

c.  Intonasi
Intonasi ialah lagu atau irama dalam mengucapkan kalimat. Ada tekanan keras atau lembut dalam ucapan,  tempo, dan tekanan nada menaik atau menurun.
Contoh naskah drama:

TANGIS
Pentas      :  Menggambarkan sebuah taman atau halaman.
01.  Fani dan Gina sedang menangis, dengan suara yang enak didengar, dengan  komposisi yang sedap dipandang.
02.  Hana  :  (muncul dan tertegun, mendekati kedua temannya)
                   ”Ada apa ini? Fani, Gina, mengapa menangis?
                    Mengapa? Katankanlah, siapa tahu aku dapat membantu.
                    Ayolah Fani, apa yang terjadi? Ayolah Gina, hentikan sebentar tangismu!
03.  Fani dan Gina tidak menggubris Hana. Mereka terus menangis secara memilukan.
04.  Hana  :  Ya, Tuhan! Duka macam apakah yang Kaubebankan
kepada kedua temanku ini? Dan apa yang harus kulakukan bila aku tidak tahu sama sekali persoalannya semacam ini? Fani, Gina, sudahlah! Kita memang wanita sejati, tanpa ada seorang pun yang berani meragukan, dan oleh karena itu pula, kita juga berhak istimewa untuk menangis. Namun apa pun persoalannya, tidaklah wajar membiarkan seorang sahabat kebingungan semacam ini, sementara kalian berdua menikmati indahnya tangisan dengan enaknya. Ayolah, hentikan tangisan kalian. Kalau tidak, ini akan kuanggap sebagai penghinaan yang tidak termaafkan, dan sekaligus akan mengancam kelangsungan persahabatan kita!”
05.   Fani dan Gina tertegun sejenak mendengar kata-kata Hana. Mereka menghentikan tangis, saling bertatapan, lalu Gina memberikan selembar kertas kepada Hana. Keduanya meneruskan tangisan mereka.
06.   Hana membaca tulisan pada kertas itu. Ia termangu beberapa saat, geleng-geleng kepala, kemudian ikut menangis pula.
07.   Inu   :  (muncul tergopoh-gopoh)” Ada apa? Ada apa ini, mereka menganggu lagi? Gila! Mereka memang terlalu! Sudahlah, aku yang akan menghadapinya! (mencari batu untuk senjata) Tenanglah kalian. Kita mengakui bahwa kita memang makhluk lemah (mulai menangis), miskin, bodoh, dan tak punya daya. Tetapi, itu tidak berarti bahwa kita dapat mereka hina secara semena-mena. (sambil menangis) berapa kali mereka melakukannya? Huh, cacing pun mengeliat jika diinjak, apa lagi kita, manusia! Mungkin kini mereka akan gentar pada tekad perlawanan kita. Tetapi jangan puas, mereka harus diberi pelajaran agar tahu benar-benar bahwa kita bukanlah barang mainan. (Menangis) Baiklah, akan kucari mereka dengan batu-batu di tanganku! (beranjak pergi).
08.  Hana  :  (menahan Inu seraya memberikan selembar kertas)
09.  Inu     :  (menerima kertas itu, membacanya, bengong sesaat, kemudian geleng-geleng kepala dan tertawa sendiri. Diamatinya teman-temannya satu per satu sambil tersenyum-senyum).
10.  Jati   :  (muncul, heran melihat situasi itu, kemudian marah kepada Inu) Inu! Kauapakan mereka?
11.   Inu   :  Tenang, Jati. Tidak ada apa-apa!”
12.   Jati   :  Enak saja! Senang, ya, dapat membuat orang lain menangis?
13.   Inu   :  Hai, bukan aku penyebabnya, Jati!” (tertawa)
14. Jati   :  Kamu mampu tertawa sementara ketiga sahabatmu menangis duka. Di mana perasaanmu, Inu?”
15.   Inu   :  Jati, apakah setiap tangis itu duka?”
16.   Jati   :  Tetapi, mereka jelas nampak menderita!”
17.   Inu   :  (tertawa)           Tampak menderita tidak sama dengan nyata menderita!”
18.   Jati   :  Gila! Tidak kusangka! Aku kini tahu mutu pribadimu yang sesungguhnya, Inu!”
19.   Inu   :  Ampun, Jati! Sabar, Jati ! Nih, coba baca.” (memberikan selembar kertas).
20  Jati   :  (dengan segan menerima, kemudian tertegun ketika membacanya) ”Maaf, kami sedang latihan akting menangis, jangan nganggu, ya!? Trim’s!”Gila! Sudah! Selesai! Hentikan latihan gila-gilaan ini!”
21.  Semua tertawa terbahak-bahak, sementara Jati salah tingkah. 
  (dikutip dari Buku Kumpulan drama Remaja, berjudul tangis oleh A.Rumadi)
            Pola gilir juga dapat dilakukan dalam membawakan acara. Untuk acara hiburan yang cukup banyak dan panjang, biasanya dipandu oleh dua orang MC atau pembawa acara. Kedua pembawa acara tersebut saling bergantian berbicara mengantarkan setiap acara yang akan dipertunjukkan dan mengomentarinya. Dalam memberikan pengantar atau komentar, dapat diterapkan pola gilir agar tak terjadi saling ingin bicara dan mendominasi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar