Rabu, 26 Oktober 2011

Kelas x Smt 2,Kompetensi Dasar : Menulis proposal untuk kegiatan ilmiah sederhana

MENULIS PROPOSAL UNTUK KEGIATAN ILMIAH SEDERHANA
A.  Pengertian Proposal
         Proposal adalah suatu usulan kegiatan atau rencana yang diterangkan dalam bentuk rancangan kerja secara terperinci dan sistematis yang akan dilaksanakan atau dikerjakan. Proposal dibuat untuk mendapatkan dukungan atau persetujuan pihak lain. Tapi adakalanya proposal juga dibuat untuk memohon bantuan dana. Berdasarkan bentuknya, proposal dapat digolongkan menjadi dua, yaitu: (1) proposal formal dan  (2) proposal semiformal atau proposal sederhana.
B.  Sistematika Proposal
1.  Proposal Formal
          Proposal Formal disusun secara lengkap meliputi tiga bagian utama, yaitu seperti berikut
 a.  Bagian Pelengkap Pendahuluan
      Bagian ini terdiri atas:
 (1)  sampul dan halaman judul
 (2)  prakata
 (3)  ikhtisar (abstrak)
 (4)  daftar isi
 (5)  penegasan permohonan
 b.  Isi Proposal
      Bagian ini terdiri atas:
 (1)  latar belakang masalah
 (2)  ruang lingkup masalah
 (3)  pembatasan masalah
 (4)  asumsi dasar/kerangka teori
 (5)  metodologi
 (6)  fasilitas
 (7)  personalia (kepanitiaan)
 (8)  keuntungan dan kerugian
 (9)  waktu dan biaya
 c. Bagian Penutup
     Bagian ini terdiri atas:
 (1)  daftar pustaka
 (2)  lampiran-lampiran
       (3)  daftar gambar/tabelBahasa
2. Proposal Semiformal
Proposal semiformal terbagi menjadi dua jenis, yaitu: proposal kegitan umum dan proposal kegiatan ilmiah sederhana.
a. Proposal Kegiatan Umum
   Proposal kegiatan umum ialah proposal yang berisi usulan atau rencana kegiatan yang bersifat umum, misalnya, kegiatan bazar, bakti sosial, pesantren kilat, atau LDKS.
             Sistematika proposal kegiatan umum berbentuk sederhana, yaitu meliputi :
(1)  nama kegiatan (judul)
(2)  latar belakang atau dasar pemikiran
(3)  maksud dan tujuan
(4)  sasaran/ruang lingkup
(5)  waktu dan tempat kegiatan
(6)  penyelenggara/panitia kegiatan
(7)  program/jadwal kegiatan
(8)  anggaran biaya
(9)  penutup
b. Proposal Kegiatan Ilmiah Sederhana
          Proposal kegiatan ilmiah sederhana atau proposal penelitian ilmiah sederhana adalah usulan kegiatan yang berisi rancangan kerja atau langkah-langkah untuk melakukan kegiatan ilmiah secara sederhana. Misalnya, proposal pengamatan, proposal mengadakan diskusi ilmiah, proposal penelitian sederhana, dan proposal studi kepustakaan.
          Sistematika proposal kegiatan ilmiah sederhana juga berbentuk sederhana meliputi unsur-unsur berikut.
1)  Nama kegiatan ilmiah (judul)
Judul merupakan cerminan dari keseluruhan rencana penelitiannya,
         karenanya merupakan unsur yang paling penting dan merupakan
         “wajah” pengenal rencana penelitiannya tersebut.
2)   Latar belakang/Dasar penelitian
Latar belakang penelitian memuat alasan-alasan mengapa topik
      seperti yang tercantum di dalam judul penelitian itu diteliti.
3) Ruang lingkup masalah
            Memuat tentang batasan mengenai obyek yang akan diteliti

Kelas x Smt 2,Kompetensi Dasar : Membuat parafrasa dari teks tertulis Membuat parafrasa lisan dalam konteks bekerja

MEMBUAT  PARAFRASA
A. Memahami Parafrasa
             Pernahkah Anda mendengar istilah parafrasa?  Istilah parafrasa mungkin sering muncul dalam pembahasan puisi. Salah satu cara untuk memahami puisi  adalah  dengan  membuat  parafrasa  terhadap  puisi  tersebut,  yaitu dengan menambahkan kata-kata yang dapat memperjelas kalimat pendek yang menjadi ciri khas puisi. Setelah ada penambahan, puisi tersebut berubah menjadi  uraian  prosa  atau  cerita. Artinya, wajah  asli  puisi  tersebut  telah berubah menjadi prosa, namun  kandungan makna atau pengertian dari isi puisi tidak berubah.  Hal seperti itulah yang disebut parafrasa.
             Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, parafrasa adalah penguraian kembali  suatu  teks atau karangan dalam bentuk atau  susunan kata yang lain  dengan  maksud  dapat  menjelaskan  maknanya  yang  tersembunyi. Pengungkapan kembali  suatu  tuturan dan  sebuah  tingkatan atau macam bahasa tertentu menjadi macam yang lain tanpa mengubah pengertiannya.
              Membuat parafrasa bukan hanya pada puisi ke prosa  saja,  tapi  juga bentuk bahasa yang lain, seperti mengubah penggunaan kata kepada kata yang  sepadan  atau  bersinonim, mengubah  kalimat  aktif menjadi  bentuk pasif, kalimat langsung menjadi tidak langsung, mengubah bentuk uraian menjadi bentuk ungkapan atau peribahasa yang memiliki kesamaan arti. Pada  tataran  wacana  yaitu  mengubah  wacana  panjang  menjadi  bentuk rangkuman atau ringkasan. Dalam karya sastra, mengubah puisi ke prosa atau sebaliknya, mengubah bentuk dialog drama ke prosa atau sebaliknya. Jadi, pada hakikatnya parafrasa adalah mengubah atau mengalihkan suatu bentuk bahasa menjadi bentuk bahasa yang lain tanpa mengubah pengertian atau kandungan artinya.
             Parafrasa  juga  termasuk  menceritakan  kembali  sesuatu  yang  telah didengar  ke  bentuk  tulisan  atau  mengalihkan  bentuk  bahasa  lisan  ke bentuk bahasa tulisan. Misalnya, seseorang diperdengarkan sebuah cerita kemudian ia mencoba menguraikan kembali cerita tersebut dalam bentuk wacana atau karangan. Tentunya penggunaan kalimat dan pilihan katanya tidak sama dengan cerita aslinya karena dituangkan dengan menggunakan bahasa sendiri, namun inti cerita tidak berubah.
             Pada pembahasan kali ini, akan diuraikan cara membuat parafrasa dari sebuah wacana atau teks tertulis ke bentuk yang lebih ringkas. Hal-hal apa yang  harus diperhatikan dan  bagian-bagian mana  yang  harus diabaikan sehingga terjadi perubahan bentuk dengan tetap mempertahankan ide atau gagasan pokok sesuai teks aslinya.

B.  Cara Memparafrasa Wacana
             Wacana atau teks tertulis merupakan bentuk karangan yang terbagi atas beberapa paragraf.  Setiap paragraf  terdiri  atas unsur kalimat utama dan kalimat penjelas seperti yang telah diuraikan pada Bab 10. Kalimat-kalimat penjelas dapat berupa uraian yang penting dapat juga hanya perincian yang mengungkapkan contoh, ilustrasi, dan perumpamaan-perumpamaan. Kita harus tahu mana bagian yang berisi hal-hal pokok atau penting dan mana yang  bukan.
             Untuk memparafrasakan  sebuah  teks  tertulis,  langkah-langkah  yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut.
1.  Bacalah teks yang akan diparafrasa secara keseluruhan.
2.  Pahami topik atau tema dari teks tersebut untuk teks berbentuk narasi pahami pula alur atau jalan ceritanya.
3. Carilah kalimat utama pada setiap paragraf untuk menemukan gagasan atau ide pokok paragraf tersebut.
4.  Catatlah  gagasan pokok setiap paragrafnya.
5. Perhatikan  kalimat  penjelas,  pilahlah  kalimat  penjelas  yang  penting dan  buanglah  yang  hanya  berupa  ilustrasi,  contoh,  permisalan,  dan sebagainya  
6. Pilihlah kata atau kalimat yang efektif untuk menceritakan kembali. Jika perlu gunakan kata yang sepadan atau ungkapan yang lebih mewakili pengertian yang panjang, tetapi dapat dipahami.
7.  Ceritakan  atau  uraikan  kembali  dengan  bahasa  yang  lebih  mudah dipahami dan ringkas.
Di bawah ini adalah contoh sebuah wacana dan proses parafrasanya.
             Kewirausahaan merupakan  fondasi yang kokoh bagi pertumbuhan ekonomi  yang  tersebar  dan  berkelanjutan,  serta  memperkuat  proses demokratisasi  suatu  bangsa.  Pengembangan  kewirausahaan  bermakna strategis  bagi  kemakmuran  dan  daya  saing  suatu  bangsa. Hasil  studi ACG Advisory Group mengindikasikan pendidikan formal secara umum berpengaruh  terhadap  kemampuan  berwirausaha,  tapi  belum mampu menstimulan  peserta  didik  memiliki  kemauan  berwirausaha.  Hal  ini disebabkan  pendidikan  formal  di  Indonesia  saat  ini  hanya  berfokus pada upaya mengembangkan sisi pengetahuan peserta didik memahami bagaimana  suatu  bisnis  seharusnya dialankan dan  bukan  pada  upaya mengembangkan  sisi  sikap  untuk  berwirausaha  serta  pengalaman berwirausaha.
             Fenomena  ini disebabkan  sistem pendidikan di  Indonesia yang  lebih menekankan pada sisi hard skill daripada  sof skill  sehingga sisi kognitif peserta didik yang lebih diutamakan daripada sisi afektif dan psikomotoriknya (Lead Education 2005). Akibatnya, lulusan pendidikan formal secara umum memiliki pemahaman pengetahuan yang relatif baik mengenai kewirausahaan,  tapi tidak memiliki keterampilan dan mind-set berwirausaha.
             Pendidikan  ’pengetahuan’  kewirausahaan  telah  diajarkan  secara intrakurikuler baik  sebagai mata kuliah/mata pelajaran yang  tersendiri maupun sebagai bagian (topik bahasan) dari mata kuliah/mata pelajaran dari  tingkat  dasar  sampai  dengan  perguruan  tinggi.  Sayangnya, pembahasan  kewirausahaan  di  lembaga  pendidikan  formal  lebih didasarkan pada mengajarkan substansi buku teks, daripada memberikan pengalaman nyata bagi peserta didik untuk berwirausaha sehingga tidak mampu  mengubah  pola  pikir  dan  sikap  agar  peserta  didik  memiliki kemauan dankemampuan berwirausaha. Fenomena ini dibuktikan dari banyaknya  lulusan  perguruan  tinggi  yang menganggur  (11,7%  dari  6 juta orang lulusan perguruan tinggi), dan hanya kurang dari 5% lulusan perguruan tinggi yang akhirnya membuka usaha sendiri.
             Perubahan sistem pendidikan tinggi dan orientasi masyarakat untuk kuliah perlu diubah untuk mengurangi pengangguran lulusan perguruan tinggi padamasa mendatang. Kurikulum pendidikan tinggi yang berbasis pengetahuan perlu diubah ke arah kurikulum yang berbasis kompetensi dan  mendidik  kemandirian.  Pengembangan  jiwa  kewirausahaan  di kalangan  mahasiswa  diharapkan  dapat  menyelesaikan  pertambahan masalah pengangguran lulusan perguruan tinggi di Indonesia pada masa mendatang.
             Perubahan  kurikulum  ini memerlukan dukungan  bahan  ajar  yang atraktif  dan  praktis  sesuai  dengan  tingkat  kompetensi  peserta  didik, serta peningkatan kualitas guru dalam memahami kewirausahaan dan keterampilan  teknis  lainnya.  Guru  diharapkan  mampu  membekali keterampilan  praktis  kepada  siswa  didiknya  yang  bermanfaat  untuk membuka  usaha,  seperti  :  pendidikan  memasak,  menjahit,  membuat kerajinan  tangan, dan  sejenisnya. Perubahan pola pendidikan  ini  akan menghasilkan lulusan pendidikan formal yang memiliki pola pikir untuk berwirausaha  serta  mempunyai  keterampilan  dasar  yang  bermanfaat untuk berwirausaha kelak di kemudian hari.      
      
Hal-hal pokok  yang terdapat dalam wacana di atas adalah seperti berikut.

1.  Kewirausahaan  merupakan  fondasi  pertumbuhan  ekonomi  dan memperkuat proses demokratisasi suatu bangsa.
2.  Pendidikan  formal  di  Indonesia  hanya  berfokus  pada  upaya mengembangkan pengetahuan bagaimana suatu bisnis harus dialankan bukan mengembangkan sikap untuk berwirausaha.
3.  Pendidikan di  Indonesia  lebih menekankan  sisi hard  skill bukan  sof skill /sisi kognitif bukan afektif dan psikomotorik.
4.  Pola pendidikan ini tidak mengubah pola pikir dan sikap peserta didik agar memiliki kemauan dan kemampuan untuk berwirausaha.
5.  Lulusan  perguruan  tinggi menganggur  11,7%  dari  6  juta  orang  dan hanya di bawah 5% lulusan yang membuka usaha sendiri.
6.  Perubahan  sistem pendidikan  tinggi dan  orientasi masyarakat harus kuliah perlu dilakukan.
7.  Perubahan kurikulum memerlukan dukungan bahan ajar yang atraktif dan praktis sesuai dengan tingkat kompetensi peserta didik serta guru dalam memahami kewirausahaan.
8.  Perubahan pola pendidikan ini akan menghasilkan lulusan pendidikan formal  yang memiliki  pola  pikir  untuk  berwirausaha  serta memiliki keterampilan  dasar  yang  bermanfaat  untuk  berwirausaha  kelak  di kemudian hari.

Parafrasa wacana seperti berikut.
             Kewirausahaan  merupakan  fondasi  dan  penguat  pertumbuhan ekonomi  dan  demokratisasi  suatu  bangsa.  Pendidikan  formal  secara umum  berpengaruh  dalam  mengembangkan  kewirausahaan,  namun belum  dapat  menstimulan  peserta  didik  untuk  mau  berwirausaha. Sistem  pendidikan  di  Indonesia  baru  mengembangkan  sisi  kognitif  yaitu memahami  proses  bisnis  bukan menumbuhkan  sikap  berbisnis. Pendidikan di Indonesia  lebih menekankan hard skill daripada sof skill. Hal ini menyebabkan lulusan perguruan tinggi menganggur 11,7 % dari 6 juta orang dan hanya kurang dari 5% yang membuka usaha sendiri. Perubahan  pendidikan  formal  termasuk  orientasi masyarakat  yang mengharuskan kuliah perlu dilakukan. Namun, hal  itu perlu didukung oleh  bahan  ajar  yang  atraktif  dan  praktis  serta  guru  yang memahami kewirausahaan.  Dengan  adanya  perubahan  ini,  diharapkan  lulusan pendidikan formal memilki pola pikir untuk berwirausaha dan mempunyai keterampilan dasar untuk modal  berwirausaha kelak di kemudian hari.



MEMBUAT  PARAFRASA LISAN DALAM
KONTEKS BEKERJA
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                         (Sumber : Majalah                                                                                                                                                                                    Ikan+Mancing, Januari 2003)
A.  Pengertian Parafrasa.
          Parafrasa mengandung arti pengungkapan kembali suatu tuturan atau karangan menjadi  bentuk  lain  namun  tidak mengubah  pengertian  awal. Parafrasa  tampil dalam bentuk  lain dari bentuk aslinya, misalnya sebuah wacana  asli menjadi wacana  yang  lebih  ringkas,  bentuk  puisi  ke  prosa, drama  ke  prosa,  dan  sebaliknya.  Parafrasa  cenderung  diuraikan  dengan menggunakan  bahasa  si  pembuat  parafrasa  bukan  diambil  dari  kalimat sumber aslinya apalagi membuat parafrasa secara lisan.
          Memparafrasakan  suatu  tuturan  atau  karangan  secara  lisan  bisa dilakukan  setelah mendengar  tuturan  lisan  atau  setelah membaca  suatu naskah  tulisan. Hal  itu  lazim  dilakukan  oleh  orang  yang  sudah  terbiasa membuat parafrasa. Untuk mereka yang baru dalam taraf belajar, langkah membuat  parafrasa  ialah  dengan  cara  meringkasnya  terlebih  dahulu. Namun,  harus  diingat  parafrasa  disusun  dengan  bahasa  sendiri,  bukan dengan bahasa asli penulis.
B.  Cara Membuat Parafrasa
           Berikut  adalah  hal  yang  perlu  dilakukan  untuk membuat  parafrasa dari sebuah bacaan.
(1)  Bacalah  naskah  yang  akan  diparafrasakan  sampai  selesai  untuk memperoleh gambaran umum isi bacaan/tulisan.
(2)  Bacalah naskah sekali lagi dengan memberi tanda pada bagian-bagian penting dan kata-kata kunci yang terdapat pada bacaan.
(3)  Catatlah kalimat inti dan kata-kata kunci secara berurut.
(4)  Kembangkan kalimat inti dan kata-kata kunci menjadi gagasan pokok yang sesuai dengan topik bacaan.
(5) Uraikan kembali gagasan pokok menjadi paragraf yang singkat dengan bahasa sendiri.
            Membuat parafrasa lisan berarti uraian tertulis yang telah dibaca atau yang  telah  didengar,  diungkapkan  kembali  secara  lisan  dengan  kalimat sendiri  dengan  menerapkan  teknik  membuat  parafrasa  sama  seperti  di atas.
            Teknik membuat parafrasa lisan adalah seperti berikut.
(1)  Membaca informasi secara cermat.
(2)  Memahami isi informasi secara umum.
(3)  Menulis inti atau pokok informasi dengan kalimat sendiri.
(4)  Mencatat kalimat pokok atau inti secara urut.
      (5) Mengembangkan  kalimat  inti  atau  kata-kata  kunci  menjadi  pokok-pokok   pikiran yang sesuai dengan tema/topik informasi sumber.
      (6) Menyampaikan atau menguraikan secara lisan pokok pikiran tersebut dengan menggunakan kata atau kalimat sendiri.
(7)  Jika kesulitan menguraikannya, hal di bawah ini dapat membantu:
 (a) Gunakan kata-kata yang bersinonim dengan kata aslinya.
       (b) Gunakan ungkapan yang sepadan  jika  terdapat ungkapan untuk membedakan    dengan uraian aslinya.
       (c) Ubahlah  kalimat  langsung menjadi  tidak  langsung  atau  kalimat aktif menjadi pasif.
 (d)  Jika berbentuk narasi, bisa menggunakan kata ganti orang ketiga.







C. Memparafrasakan Puisi Menjadi Prosa
            Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam memparafrasakan puisi menjadi prosa ialah seperti berikut.
(1)  Bacalah atau dengarkan pembacaan puisi dengan seksama.
(2)  Pahami isi kandungan puisi secara utuh.
(3)  Jelaskan kata-kata kias atau ungkapan yang terdapat dalam puisi.
(4) Uraikan kembali  isi puisi  secara  tertulis dalam bentuk prosa dengan menggunakan kalimat sendiri.
(5)  Sampaikan secara lisan atau dibacakan.

D.  Pola Penyajian Informasi Lisan
             Beberapa pola penyajian  atau penyampaian  informasi  secara  lisan adalah seperti berikut.
1.  Pola Contoh
Parafrasa  dengan  pola  contoh  dikembangkan  memerinci  atau memberikan ilustrasi untuk menjelaskan ide pokoknya.
Contoh:
Pohon  pisang  merupakan  pohon  yang  banyak  fungsinya.  Selain buahnya, daun dan batangnya dapat dimanfaatkan. Daun pisang dapat digunakan untuk membungkus, sedangkan batangnya dimanfaatkan untuk membuat perhiasan dalam pernikahan.
2.  Pola Proses
Parafrasa diuraikan dalam bentuk proses, dengan memerinci cara kerja, langkah-langkah atau tahapan pelaksanaan. Parafrasa dengan pola ini berbentuk uraian ekspositoris.
Contoh:
 Berikut ini adalah proses pembuatan lumpia.Pertama,  tumis  bawang  bombai  dan  bawang  putih  sampai  harum. Kedua,  masukkan  daun  bawang  dan  ayam  cincang,  masak  selama kurang  lebih  tiga  menit.  Ketiga,  masukkan  jagung  manis,  jamur kancing, bayam,  lada, gula pasir, dan bumbu penyedap secukupnya. Keempat, aduk sampai rata jagung dan bumbu-bumbu tersebut sampai layu. Terakhir, masukkan larutan maizena sedikit demi sedikit sambil diaduk-aduk kurang lebih lima menit dan sisihkan.
3.  Pola Sebab Akibat
Parafrasa  dengan  pola  ini  diawali  dengan  mengemukakan  atau menggambarkan hal-hal yang menunjukkan sebab dan akhiri dengan suatu akibat.
Contoh:
Mencuci  dengan  sabun  deterjen  dapat  memudarkan  warna  tekstil atau  bahan  pakaian.  Memudarnya  warna  pakaian  terlihat  seperti lusuh dan usang. Pakaian lusuh tidak layak untuk dipakai. Akibatnya, banyak orang tidak menggunakan lagi sabun deterjen untuk mencuci pakaian.
4.  Pola Urutan/Kronologis
Parafrasa pola ini pemaparannya diuraikan berdasarkan urutan waktu dan  rangkaian  kejadiannya.  Parafrasa  pada  pola  urutan/kronologis bersifat narasi. Contoh:
Saya  mendengar  suara  kentongan,  sepertinya  itu  pedagang  bakmi lewat. Saya pergi keluar dan membuka pintu pagar, lalu memanggilnya. Ia berhenti. Pedagang itu seorang laki-laki. Dia bertanya, “Mau pesan berapa porsi?”  Saya  jawab  “Satu porsi  saja.” Kemudian,  laki-laki  itu menyiapkan bakmi sesuai pesanan saya. Setelah bakmi selesai dibuat, saya  memberikan  uang  lima  ribu  rupiah  untuk  membayar  bakmi kepada pedagang keliling  itu, kemudian  saya masuk ke  rumah, dan pedagang berlalu dari depan rumah saya.

Kelas x Smt 2,Kompetensi Dasar : Menggunakan secara lisan kalimat tanya/pertanyaan dalam konteks bekerja

B.  Jenis Kalimat Tanya dan Kata Tanya
1.   Kalimat Tanya Klarifkasi dan Konfrmasi
Yang dimaksud kalimat tanya klarifkasi (penegasan) dan kalimat tanya konfrmasi  (penjernihan)  ialah  kalimat  tanya  yang  disampaikan  kepada orang  lain untuk  tujuan mengukuhkan dan memperjelas persoalan yang sebelumnya telah diketahui oleh penanya. Kalimat tanya ini tidak meminta penjelasan, tapi hanya membutuhkan jawaban pembenaran atau sebaliknya dalam bentuk ucapan ya atau tidak dan benar atau tidak benar.
      Contoh kalimat tanya klarifkasi:
1.   Benarkah Saudara yang memimpin penelitianmu?
2.   Apa benar barang-barang ini milik Anda?
3.   Jadi benar isu mengenai keluarnya Anda dari Proyek Management?
4.   Benarkah akan terjadi gempa di Jakarta, Pak?
      Contoh kalimat tanya konfrmasi:
1.   Apakah Saudara mempunyai hubungan erat dengan terdakwa?
2.   Apa Bapak sudah menerima surat pengunduran diri saya?
3.   Apakah ini kunci mobil saudara?
4.   Apa hari itu Anda pergi bersamanya?

2.   Kalimat Tanya Retoris
Kalimat  tanya  retoris  adalah  kalimat  tanya  yang  tidak memerlukan jawaban atau tanggapan langsung. Kalimat tanya retoris biasanya digunakan dalam pidato, khotbah, atau orasi. Pertanyaan retoris dikemukakan dengan bermacam-macam maksud sesuai dengan pokok pembicaraan. Pertanyaan retoris bertujuan untuk memberi semangat, menggugah hati, memotivasi, memberi kesadaran, dan sebagainya terhadap audiens atau pendengar.
Contoh kalimat retoris :
1.   Apakah kita tega membiarkan mereka kelaparan?
2.   Apakah nasib kita akan berubah tanpa ada usaha?
3.   Mana mungkin Allah menurunkan rezeki bagi orang-orang malas?
4.   Di mana kita saat mereka memohon pertolongan?
5.   Mana ada pejabat yang jujur di zaman edan seperti ini?
6.   Sudahkah kita mencoba memulai dari diri kita sendiri?
7.  Siapa yang akan bertanggung jawab terhadap moral bangsa kalau bukan kita?

3.  Kalimat Tanya Tersamar
Kalimat  tanya  tersamar  maksudnya  adalah  bentuk  kalimat  tanya yang mengacu pada bermacam maksud. Dengan kalimat  tanya  tersamar, penanya dapat menyampaikan berbagai tujuan seperti, memohon, meminta, menyindir, membiarkan, mengajak, menegaskan, menyetujui, menggugah, melarang, menyuruh, dan lain sebagainya.
Contoh :
1.   Tujuan meminta:
      -   Bolehkah saya tahu siapa namamu?
      -   Dapatkah kamu menolong saya?
2.   Tujuan mengajak:
      -   Bagaimana kalau kamu ikut dalam perlombaan sains antarsekolah?
      -   Dapatkah kamu menemaniku ke pesta itu nanti malam?
3.   Tujuan memohon:
      -   Apakah kamu bersedia menerima lamaran saya?
      -   Bersediakah kamu meminjamkan motormu kepadaku?
4.   Tujuan menyuruh:
      -   Bagaimana kalau kamu berangkat ke sekolah sekarang?
      -   Maukah kamu membuatkan kue bolu?
 5.   Tujuan merayu:
      -   Kapan saya bisa mengajak kamu jalan-jalan?
      -   Jadi kan kamu traktir saya makan hari ini?
6.  Tujuan menyindir:
      -   Apa tidak ada orang yang lebih bodoh dari kamu?
      -   Begini caranya kamu berterima kasih?
7.    Tujuan  menyanggah:
      -   Apa dengan cara ini semua persoalan dapat selesai?
      -   Bagaimana jika kita mencari cara yang lain?
8.  Tujuan meyakinkan:
     -   Mestikah saya bersumpah di hadapanmu?
     -   Apa selama ini kata-kata saya cuma pepesan kosong?
9.  Tujuan menyetujui:
     -   Tak ada alasan untuk ditolak, bukan?
     -   Apa pantas hal ini saya abaikan?



4.  Jenis Kalimat  Tanya Biasa
Kalimat  tanya  biasa disebut juga kalimat tanya untuk menggali infor-masi. Kalimat untuk menggali informasi biasanya menggunakan kata tanya. Kata tanya yang dipergunakan, dirumuskan dengan 5W+ 1H, yaitu : what (apa), where (di mana), who (siapa), whene (kapan), why (mengapa) dan how (bagaimana).
      Contoh penggunaannya di dalam kalimat:
-   Apa yang menyebabkan terjadinya kebakaran ini?
-   Dari mana asal api?
-   Siapa yang pertama kali melihat kejadian ini?
-   Kapan tepatnya peristiwa itu terjadi?219
-   Mengapa pemadam kebakaran terlambat datang?
      -  Bagaimana  upaya  warga  menyelamatkan  barang-barangnya  dari     kebakaran itu?

Kelas x Smt 2,Kompetensi Dasar : Menggunakan kalimat tanya secara tertulis sesuai dengan situasi komunikasi

MENGGUNAKAN KALIMAT  TANYA
SECARA TERTULIS

A.  Kalimat Tanya
Kalimat  tanya  ialah  kalimat  yang  dipergunakan  dengan  tujuan memperoleh  reaksi  berupa  jawaban  dari  yang  ditanya  atau  penguatan sesuatu  yang  telah  diketahui  oleh  penanya.  Kalimat  tanya  diucapkan dengan intonasi menaik pada suku kata akhir. Dalam bentuk tulis ditandai dengan tanda tanya (?).

Kelas x Smt 2,Kompetensi Dasar : Menyimak untuk memahami secara kreatif teks seni berbahasa dan teks ilmiah sederhana

MENYIMAK UNTUK MEMAHAMI TEKS SENI
BERBAHASA DAN TEKS ILMIAH SEDERHANA
A. Hakikat Apresiasi
      Apresiasi dapat diartikan suatu langkah untuk mengenal, memahami, dan menghayati suatu karya sastra yang berakhir dengan timbulnya pencelupan atau rasa menikmati karya tersebut dan berakibat subjekapresiator dapat menghargai karya sastra yang dinikmatinya secara sadar. Karya sastra dapat dikenal atau dipahami melalui unsur-unsur yangmembangunnya atau disebut dengan unsur intrinsik. Yang dimaksud unsur-unsur intrinsik, yaitu tema, plot/alur, tokoh, watak tokoh, latar,seting, amanat/pesan, sudut pandang, dan gaya bahasa. Selain dari unsur intrinsik dan teks seni  berbahasa, juga dapat diapresiasi dengan menelaahpenggunaan atau pilihan kata serta istilah yang terdapat dalam teks tersebut. Termasuk dalam hal ini, mencari kata-kata kunci yang menjadi penandatema teks yang bersangkutan.
       Di samping pengamatan terhadap unsur-unsur intrinsik dan pemakaian unsur bahasanya, untuk memahami suatu karya sastra atauteks seni berbahasa  dapat dilakukan pula pengamatan terhadap unsur-unsur ekstrinsik, yaitu hal-hal yang melatar belakangi terciptanya teks seni berbahasa tersebut. Hal-hal tersebut antara lain latar belakang pengarang, tujuan penulisan, latar sosial-budaya, lingkungan kehidupan pengarang, serta latar belakang pendidikan.
Menurut isinya, prosa terdiri atas prosa ksi dan nonksi.
1. Prosa Fiksi
        Prosa ksi ialah  prosa yang berupa cerita rekaan atau khayalan pengarangnya. Isi cerita tidak sepenuhnya berdasarkan pada fakta. Prosa ksi disebut juga karangan narasi sugestif/imajinatif. Prosa ksi berbentuk cerita pendek (cerpen), novel, dan dongeng.
   1.  Cerpen adalah cerita rekaan yang pendek dalam arti hanya berisi pengisahan dengan fokus pada satu konik saja dengan tokoh-tokoh yang terbatas dan tidak berkembang. Alur cerita sederhana hanya memaparkan penyelesaian konik yang diungkapkan.
   2.  Novel berasal dari bahasa Italia, novella yang berarti barang baru yang kecil. Kemudian, kata tersebut menjadi istilah sebuah karya sastra dalam bentuk prosa. Novel lebih panjang isinya dari pada cerpen. Konik yang dikisahkannya lebih luas. Para tokoh dan Bahasa Indonesia SMK/MAK Setara Tingkat Unggul Kelas XII  9 watak tokoh pun lebih berkembang sampai mengalami perubahan nasib. Penggambaran latar lebih detail. Bersamaan dengan perjalanan waktu terjadi perubahan-perubahan hingga konik terselesaikan.
3. Dongeng adalah cerita rekaan yang sama dengan cerpen atau novel. Hanya di dongeng, cerita yang dikisahkan adalah tentang hal-hal yang tak masuk akal atau tak mungkin terjadi. Misalnya, orang dapat menjelma jadi binatang, binatang dapat berkata-kata, dan sebagainya. Dongeng biasanya menjadi sarana penyampaian nasihat tentang moral atau bersifat alegoris. Contoh dongeng: Kancil dan Buaya, Jaka dan Pohon Kacang Ajaib, Eneng dan Kaos Kaki Ajaib, dan lain-lain.
          Di dalam prosa ksi, terdapat unsur-unsur pembangun yang disebut unsur intrinsik. Yang termasuk unsur intrinsik, yaitu: tema, alur, penokohan, latar, amanat, sudut pandang, dan gaya bahasa.
a. Tema
           Tema ialah inti atau landasan utama pengembangan cerita. Hal yang sedang diungkapakan oleh pengarang dalam ceritanya. Tema dapat bersumber pada pengalaman pengarang, pengamatan pada lingkungan, permasalahan kehidupan, dan sebagainya. Misalnya, tentang cinta, kesetiaan, ketakwaan, korupsi, perjuangan mencapai keinginan, perebutan warisan, dan sebagainya
b. Alur/Plot
            Alur ialah jalan cerita atau cara pengarang bercerita. Alur dapat disebut juga rangkaian atau tahapan serta pengembangan cerita. Dari mana pengarang memulai cerita mengembangkan dan mengakhirinya. Alur terdiri atas  alur maju, alur mundur  (ash back), alur melingkar, dan alur campuran. Tahapan-tahapan alur yaitu:
(1)  pengenalan
(2)  pengungkapan masalah
(3)  menuju konik
(4)  ketegangan
(5)  penyelesaian
       
c. Penokohan
           Penokohan ialah cara pengarang mengambarkan para tokoh di dalam cerita. Penokohan terdiri atas tokoh cerita, yaitu orang-orang yang terlibat secara langsung sebagai pemeran sekaligus penggerak cerita dan orang-orang yang hanya  disertakan di dalam cerita. Dan
watak tokoh, yaitu penggambaran karakter serta perilaku tokoh-tokoh cerita.  Untuk menimbulkan konik, biasanya di dalam cerita ada tokoh yang berperan penting dengan kepribadian yang menyenangkan dan ada tokoh yang berseberangan tindak-tanduk dan perilakunya dengan tokoh sentral tersebut. Tokoh utama disebut dengan tokoh protagonis dan lawannya adalah tokoh antagonis.

             Cara pengarang  menggambarkan para tokoh cerita ialah dengan secara langsung dijelaskan nama tokoh beserta gambaran  sik, kepribadian, lingkungan kehidupan, jalan pikiran, proses berbahasa, dan lain-lain. Dapat juga dengan cara tidak langsung, yaitu melalui percakapan/dialog, digambarkan oleh tokoh lainnya,  reaksi dari tokoh lain, pengungkapan kebiasaan tokoh, jalan pikiran, atau tindakan saat menghadapi masalah.
d. Latar/Setting
             Latar cerita adalah gambaran tentang waktu, tempat, dan suasana yang digunakan dalam suatu cerita. Latar merupakan sarana memperkuat serta menghidupkan  jalan cerita. 
e. Amanat
             Amanat cerita adalah pesan moral atau nasehat yang disampaikan oleh pengarang melalui cerita yang dikarangnya. Pesan atau nasehat disampaikan oleh pengarang dengan cara tersurat yakni dijelaskan oleh pengarang langsung atau melalui dialog tokohnya; dan secara tersirat atau tersembunyi sehingga pembaca baru akan dapat menangkap pesan setelah membaca keseluruhan isi cerita.
f.  Sudut Pandang Pengarang
               Sudut pandang pengarang atau point of view ialah posisi pengarang dalam cerita. Posisi pengarang dalam cerita terbagai menjadi dua, terlibat dalam cerita dan berada di luar cerita.
a. Pengarang terlibat di dalam cerita. Terdiri atas pengarang sebagai pemeran utama (orang pertama), isi cerita bagaikan mengisahkan pengalaman pengarang. Selain itu, keterlibatan pengarang dalam cerita juga dapat memosisikan pengarang hanya pemeran pembantu. Artinya, pengarang bukan tokoh utama atau sentral namun ia ikut menjadi tokoh, misalnya cerita tentang kehidupan orang-orang terdekat pengarang, ayah, ibu, adik, atau sahabat seperti roman sastra berjudul “Ayahku” yang dikarang oleh HAMKA.
b.  Pengarang berada di luar cerita, terdiri atas pengarang serbatahu. Ia yang menciptakan tokoh, menjelaskan jalan pikiran tokoh, mengatur dan mereka semua unsur yang ada di dalam cerita. Selain itu, pengarang berada di luar cerita dapat hanya menjadikan pengarang sebagai pengamat atau disebut sudut pandang panoramik. Pengarang menceritakan apa yang dilihatnya, sebatas yang dilihatnya. Ia tidak mengetahui secara bathin tokoh-tokoh cerita. Posisi pengarang seperti ini biasanya terdapat pada cerita narasi yang berupa kisah perjalanan.


g. Gaya Bahasa
           Gaya bahasa  adalah bagaimana pengarang menguraikan ceritanya. Ada yang menggunakan bahasa yang lugas, ada yang bercerita dengan bahasa pergaulan atau bahasa sehari-hari.  Ada juga yang bercerita dengan gaya satire atau sindiran halus, menggunakan simbol-simbol, dan sebagainya. Penggunaan bahasa ini sangat membantu menimbulkan daya tarik dan penciptaan suasana yang tepat bagi pengembangan tema serta alur cerita. Setiap pengarang besar biasanya sudah memiliki ciri khas penggunaan bahasa dalam ceritanya.

2.  Prosa Nonksi
        Prosa nonksi ialah karangan yang tidak berdasarkan rekaan atau khayalan pengarang, tetapi berisi hal-hal yang berupa informasi faktual (kenyataan) atau berdasarkan pengamatan pengarang.  Karangan ini diungkapkan secara sistematis, kronologis, atau kilas balik dengan menggunakan bahasa semiformal. Karangan ini berbentuk eksposisi, persuasi, deskripsi, atau campuran. Prosa nonksi disebut juga karangan semiilmiah. Yang termasuk karangan semi ilmiah ialah : artikel, tajuk rencana, opini, feature, tips, biogra,  reportase, iklan, pidato, dan sebagainya.
 
a.  Artikel
     Artikel ialah karangan yang berisi uraian atau pemaparan yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
(1)  isi karangan bersumber pada fakta bukan sekadar realita
(2) bersifat faktual dengan mengungkapkan data-data yang diketahui pengarang    bukan yang sudah umum diketahui (realita)
(3) uraian tidak sepenuhnya merupakan hasil pemikiran pengarang, tapi mengungkapakan fakta sesuai objek atau narasumbernya
(4)  isi artikel dapat memaparkan hal apa saja seperti, pariwisata, kisah perjalanan, prol tokoh, kisah pengalaman orang lain, satir, atau humor.
b.  Tajuk Rencana
Tajuk rencana  atau editorial adalah karangan yang bersifat argumentatif yang ditulis oleh redaktur media massa mengenai hal-hal yang faktual dan aktual (sedang terjadi atau banyak dibicarakan orang). Isi tajuk merupakan pandangan atau tanggapan dari penulisnya mengenai suatu permasalahan atau peristiwa. Tajuk rencana juga diistilahkan
dengan editorial.
c.  Opini
     Opini adalah tulisan berisi pendapat, pikiran atau pendirian seseorang tentang sesuatu. Opini termasuk bentuk prosa faktual karena meskipun masih bersifat pendapat penulisnya, namun tetap dalam opini diungkapkan berbagai alasan yang dapat menguatkan pendapat tersebut.
d.  Feature 
      Feature  atau  cer ialah sejenis artikel eksposisi yang memberikan tekanan  aspek tertentu yang dianggap menarik atau perlu ditonjolkan dari suatu objek atau peristiwa yang memiliki daya tarik secara emosional, pribadi, atau bersifat humor. Isi  feature bukan berita yang aktual, tapi kejadian yang sudah berlalu.
e.  Biogra
      Biogra adalah kisah atau riwayat kehidupan seorang tokoh yang ditulis oleh orang lain. Biogra ditulis dengan berbagai tujuan. Salah satunya untuk memberikan informasi bagi pembaca tentang latar belakang kehidupan seorang tokoh dari sejak kecil hingga mencapai Bahasa Indonesia SMK/MAK Setara Tingkat Unggul Kelas XII  32 karir di kehidupannya kemudian. Jika tokoh itu sendiri yang menulisnya disebut otobiogra. Biogra termasuk prosa naratif ekspositoris atau prosa faktual yang mengungkapkan fakta-fakta nyata.
f.   Tips
      Tips ialah karangan yang berisi uraian tentang tata cara atau langkah-langkah operasional dalam melakukan atau membuat sesuatu. Disajikan dengan ringan, sederhana, dan bahasa yang populer. Karangan ini termasuk jenis artikel ekspositoris.
g.  Reportase
      Reportase ialah karangan yang berupa hasil laporan dari liputan suatu peristiwa atau kejadian yang sedang berlangsung atau belum lama berlangsung untuk keperluan berita di media massa. Bersifat informasi aktual. Contoh reportase, yaitu berita langsung tentang kejadian bencana alam gempa jogja, atau  janjir di Jakarta.
h.  Jurnalisme Baru (New Journalism)
      Jurnalisme Baru  (new journalism)   ialah   semacam  berita  yang dituliskan ke dalam bentuk novel atau cerita pendek. Karena berbentuk cerita, unsur-unsur pembangun sebuah cerita seperti, alur, tokoh-tokoh, latar, dan konik, dipenuhi meskipun isinya merupakan fakta atau kejadian yang sebenarnya.
i.   Iklan
      Iklan ialah informasi yang disajikan lewat media massa, buletin atau surat edaran yang bertujuan untuk memberitahukan atau mempromosikan suatu barang atau jasa kepada khalayak untuk kepentingan bisnis, pengumuman, atau pelayanan publik. Iklan terdiri atas iklan keluarga, undangan, pengumuman, penerangan, niaga, lowongan pekerjaan, dan sebagainya.
Ciri-ciri bahasa iklan:
(1)   Kalimatnya  singkat; hanya menonjolkan bagian-bagian yang dipentingkan,
(2)   Uraian bersifat informatif dan persuasif,
(3) Menggunakan kata-kata yang terpilih dan menarik perhatian orang untuk      mengetahui, mencoba, atau ingin memiliki,
j.   Pidato atau khotbah.
      Pidato ialah aktivitas mengungkapkan pikiran, ide, gagasan secara lisan dalam bentuk rangkaian kata-kata atau kalimat kepada orang banyak dengan tujuan tertentu. Pidato biasanya dilakukan dalam acara-acara resmi, seremonial, dan pertemuan-pertemuan ilmiah. Pidato merupakan bentuk komunikasi satu arah karena terdiri atas pemberi pidato satu orang dan orang banyak sebagai pendengar.
           Bahasa dan isi pidato disesuaikan dengan pendengar  (audience) berdasarkan, tingkat pemikiran atau pendidikan, usia, dan topik pembicaraan. Bagian-bagian pidato ialah seperti berikut.
1.  Bagian pembukaan berisi:
(1)  salam pembuka
(2)  ungkapan sapaan
(3)  puji syukur kepada Tuhan
(4)  penegasan konteks pertemuan atau acara
2. Bagian isi berisi uraian pidato sesuai dengan yang telah direncanakan atau ingin    disampaikan.
3.  Penutup pidato, berisi:
(1)  kesimpulan isi pidato
(2)  harapan-harapan atau himbauan
(3)  ucapan  terima kasih dan permohonan maaf
(4) salam penutup
  Beberapa hal berikut harus diperhatikan dalam menyimak pidato.
1.  Simaklah isi pidato dengan saksama dari awal hingga akhir.
2.  Pahami gagasan, pendapat, atau pesan yang disampaikan dalam pidato.
3.  Ingatlah atau catatlah hal-hal penting yang terdapat dalam uraian pidato dan beri komentar.